nusabali

143 Penyuluh Direkrut Lagi

  • www.nusabali.com-143-penyuluh-direkrut-lagi

Untuk memotivasi para penyuluh Bahasa Bali, tahun ini Pemprov menggelontorkan dana untuk honor tenaga penyuluh sebanyak Rp 2,4 juta dari sebelumnya Rp 1,9 juta.

Rencana Akan Direkrut Sesuai Daerah Masing-masing

DENPASAR, NusaBali
Sebanyak 78 orang dipastikan tidak melanjutkan kembali kontrak penyuluh Bahasa Bali, setelah melakukan penandatanganan kembali untuk masa kontrak tahun 2017 yang ditutup Jumat (13/1). Dengan demikian, jika ditambah dengan tenaga penyuluh yang mengundurkan diri pada tahun 2016 lalu sebanyak 65 orang,  Pemprov Bali harus rekrut kembali 143 orang untuk mengisi kekosongan tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha memaparkan, Kabupaten Badung menjadi daerah yang penyuluhnya mengundurkan diri paling banyak di tahun 2017, yakni 22 orang. Sehingga, bila dilihat pada tahun 2016 dimana ada yang mengundurkan diri sebanyak 2 orang, maka Badung memerlukan 24 tenaga penyuluh lagi untuk melengkapi 62 desa di ‘Gumi Keris’ itu.

Disusul Kabupaten Buleleng juga kekurangan sebanyak 35 tenaga penyuluh untuk 148 desa. Tahun ini (2017) penyuluh yang tidak teken kontrak sebanyak 16 orang, sedangkan sisanya (19 orang) merupakan penyuluh yang mengundurkan diri tahun 2016.

Serupa dengan Buleleng, Tabanan juga kekurangan penyuluh cukup banyak tahun ini, karena 16 orang mengundurkan diri lagi. Dengan demikian, bila ditambah dengan 16 penyuluh yang undur diri tahun 2016, Tabanan memerlukan 32 tenaga penyuluh lagi untuk mengisi seluruh desa dinas di Tabanan yang berjumlah 133 desa.

Penyuluh di Kabupaten Bangli juga alami kekurangan sebanyak 17 orang untuk 72 desa, karena 14 orang memilih tidak melanjutkan di tahun 2017, menyusul 3 orang yang lebih dulu mundur di tahun lalu. Kemudian Jembrana juga tercatat kekurangan penyuluh cukup banyak. Daerah ‘Gumi Mekepung’ itu membutuhkan 18 penyuluh lagi untuk mengisi 51 desa (mundur 15 orang tahun 2016, 3 orang tahun 2017).

Sementara penyuluh Bahasa Bali di Klungkung dan Gianyar masih lebih sedikit yang berniat mengundurkan diri. Klungkung misalnya, hanya memerlukan 8 penyuluh lagi untuk melengkapi 59 desa dinas yang ada (mundur 4 orang tahun 2016, 4 orang tahun 2017). Sedangkan Gianyar dengan 70 desa dinas masih memerlukan 5 tenaga penyuluh (mundur 4 orang tahun 2016, 1 orang tahun 2017).

Karangasem dan Denpasar sama-sama memerlukan 2 tenaga penyuluh. Uniknya, dua daerah ini seperti bertukar posisi. Pada tahun 2016, Karangasem nihil yang mengundurkan diri, sementara tahun ini tercatat ada dua orang yang mengundurkan diri. Sebaliknya, penyuluh Denpasar dengan jumlah desa terkecil se-Bali, justru mampu bertahan seluruhnya, meskipun pada tahun 2016 ada yang mengundurkan diri sebanyak 2 orang. Karangasem memiliki 78 desa dan Denpasar 43 desa dinas.

Dewa Beratha mengatakan, sebagian besar penyuluh yang tidak menandatangani kembali masa kontrak 2017 karena memilih pekerjaan lain, yakni tenaga kontrak di SMA dan SMK yang sudah menjadi kewenangan provinsi. Seperti Badung, kata Beratha, saat ini ada perekrutan besar-besaran untuk tenaga pendidik di daerah tersebut. Kemungkinan besar, tenaga penyuluh lebih memilih kesempatan tersebut.

“Sementara ada juga sejumlah penyuluh yang tidak melanjutkan, karena dulunya ditugaskan di Tabanan atau Jembrana, yang asalnya dari Badung. Ada juga yang begitu. Nah, karena ada kesempatan tenaga kontrak di sekolah, mungkin mereka lebih memilih pekerjaan tersebut,” katanya.

Beratha menambahkan, rencananya Disbud Bali bakal merekrut 143 tenaga penyuluh yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing. Artinya, tenaga yang direkrut akan ditempatkan di kabupaten asal, dengan disesuaikan dengan kuota yang dibutuhkan.

“Namun kami masih dalam tahap pembahasan untuk hal ini. Bagaimana teknisnya nanti, masih kami perlu koordinasikan. Selain itu kami juga kami juga akan bahas tata cara rekrut, yang seperti tahun lalu, masih sama kita libatkan tim independen,” katanya.

Kadisbud Dewa Beratha menilai, meski 143 orang termasuk jumlah yang besar, namun mundurnya ratusan ‘pejuang’ Bahasa Bali ini memberikan peluang bagi tamatan Bahasa Bali lainnya untuk kembali mencoba mendaftar, baik yang tidak lulus tahun lalu ataupun yang sama sekali belum tersentuh informasi akan hal ini. Karena itu, dia menegaskan masyarakat untuk tidak memandang pesimis terhadap keberlangsungan Bahasa Bali lantaran ratusan penyuluh mengundurkan diri. Sebaliknya, publik mesti optimis karena banyak tamatan Bahasa Bali yang masih menunggu untuk mendapat kesempatan ini.

“Masih banyak tamatan Bahasa Bali yang berkesempatan mengisi kekurangan penyuluh ini. Meski yang lain tidak melanjutkan kontrak lagi, itu hanya perbedaan lingkup kerja saja. Kalau tenaga kontrak di sekolah, khususnya guru Bahasa Bali, skupnya hanya ke siswa. Sedangkan penyuluh terjun ke masyarakat dan hidup bersama masyarakat,” tegasnya seraya menyebut untuk memotivasi para penyuluh Bahasa Bali, tahun ini Pemprov menggelontorkan dana untuk honor tenaga penyuluh sebanyak Rp 2,4 juta dari sebelumnya Rp 1,9 juta. * in

Komentar