nusabali

Surya KO, Kader Teriak Golkar Mandul

  • www.nusabali.com-surya-ko-kader-teriak-golkar-mandul

Versi Rai Budiasa, Golkar solid ketika era CBS hingga sukses rebut kursi Bupati Karangasem, Bupati Badung, dan Bupati Gianyar

Sugawa Korry Sebut 64 Persen DPT Tidak Pilih Incumbent PASS

DENPASAR,NusaBali
Kekalahan Dewa Nyoman Sukrawan-Gede Dharma Wijaya (Paket Surya) di Pilkada Buleleng 2017, membuat kalangan kader Golkar gerah. Setelah Dewan Penasihat DPD I Golkar Bali Ida Tjokorda Pemecutan XI menyebut hasil Pilkada Buleleng 2017 warning bagi partainya menuju tarung Pilgub Bali 2018, kini kalangan kader senior teriak Golkar mandul.

Mantan Ketua OKK DPD I Golkar Bali dua periode, Dewa Ngakan Rai Budiasa, terang-terangan menyebut Golkar bukan hanya kurang maksimal dalam Pilkada Buleleng 2017, tapi juga mandul. Masalahnya, mesin partai tidak bekerja karena Golkar tidak usung pasangan calon. “Golkar kurang maksimal, karena dukungannya tidak signifikan untuk memenangkan Paket Surya. Golkar sendiri kan sebagai partai pendukung, sehingga boleh dikategorikan gagal,” ujar Rai Budiasa di Denpasar, Sabtu (18/2).

Rai Budiasa mengatakan, semua ini karena di Golkar kurang solid dan masih ada friksi serta perpecahan. Golkar tidak kompak memberikan dukungan terhadap pasangan yang didukung di Buleleng, karena pecah-pecah. “Di Buleleng masih ada perpecahan dan terkotak-kotak kok. Ini berpengaruh dengan kinerja mesin partai untuk pemenangan pasangan calon yang didukung di Pilkada Buleleng 2017,” tandas Rai Budiasa.

“Siapa saja yang terkotak-kotak itu, tidak etis kita sebutkan di sini. Ini yang harusnya diselesaikan dulu. Kalau tidak, susah memenangkan Pilgub Bali 2018 mendatang,” lanjut politisi senior asal Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan, Gianyar yang sempat dua periode menjabat sebagai Ketua OKK DPD I Golkar Bali ini.

Menurut Rai Budiasa, Golkar sebelumnya solid ketika mampu melakukan pembenahan or-ganisasi di era Ketua DPD I Golkar Bali Tjokorda Gede Budi Suryawan (CBS) periode 2005-2010. Kala itu, Golkar bangkit dengan soliditas menyeluruh di 9 kabupaten/kota. Walhasil, Golkar berhasil merebut 3 kursi kepala daerah di era kepemimpinan CBS.

Tiga (3) kursi kepala daerah yang direbut Golkar di era CBS masing-masing kursi Bpati Karangasem melalui Pilkada 2005 (direbut I Wayan Geredeg), kursi Bupati Badung melalui Pilkada 2005 (direbut AA Gde Agung), dan kursi Bupati Gianyar melalui Pilkada 2007 (yang direbut Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace).

“Ketiga kursi kepala daerah ini berhasil direbut Golkar karena soliditas dan kekompakan. Mengukur soliditas partai adalah ketika apa yang dihasilkan dalam hajatan politik atau event Pemilu,” tegas Rai Budiasa.

Rai Budiasa juga menyayangkan Golkar tidak mengeluarkan pasangan calon di Pilkada Buleleng 2017. Sedangkan Paket Surya merupakan pasangan calon jalur Independen yang disokong Golkar bersama Demokrat-PKS. Berdasarkan rekapitulasi suara tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Paket Surya hanya meraih 31,79 persen suara. Sedangkan pemenang Pilkada Buleleng 2017 adalah pasangan Putu Agus Suradnyana-Nyoman Sutjidra (Paket PASS), incumbent yang diusung PDIP bersama Hanura-Gerindra-NasDem-PPP-PAN-PKB, dengan dominasi 68,21 persen suara.

”Ya, Golkar di Buleleng boleh dikatakan mandul, karena tidak mengusung calon. Hal ini berdampak dengan kinerja kader Golkar,” jelas Rai Budiasa yang mantan anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta.

Karenanya, lanjut Rai Budiasa, kader Golkar memilih diam dan tidak bergerak di Pilkada Buleleng 2017. “Saya sempat mengecek dan menanyakan kepada kader-kader Golkar di Buleleng sekitar H-7 coblosan. Mereka tidak punya pilihan, karena tak ada kader Golkar yang bertarung,” katanya.

Sementara, kader senior Golkar lainnya, Dewa Ayu Putu Sri Wigunawati, justru sindir Golkar tidak kalah di Buleleng. “Saya melihat Golkar tidak kalah di Pilkada Buleleng 2017. Bagaimana mau bilang kalah, wong nggak mengusung calon?” ujar Sri Wigunawati.

Terkait pernyataan Tjok Pemecutan soal hasil Pilkada Buleleng 2017 merupakan warning bagi Golkar untuk Pilgub Bali 2018, Wigunawati tidak mengomentarinya. “Ya, terkait hasil Pilkada Buleleng, Golkar tidak kalah, karena tak mengusung calon, itu saja. Mana mau kader bergerak, karena nggak mengusung calon? Kalau Paket Surya itu kan bukan kader Golkar” ujar mantan Sekretaris DPD I Golkar Bali 2010-2012 yang kini Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi Bali ini.

Sementara itu, Sekretaris DPD I Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, menyebutkan hasil yang diraih Paket Surya di Pilkada Buleleng 2017 adalah kerja keras partainya. Menurut Sugawa Korry, Paket Surya berhasil meraih lebih dari 31 persen suara dan angka ini sudah lumayan.

Sugawa Korry memaparkan, ada 45 persen Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golput di Pilkada Buleleng 2017. Kalau dijumlahkan antara suara Paket Surya dan suara Golput, angkanya mencapai 76 persen dari DPT. “Jadi, setidaknya perkiraan kita 64 persen persen DPT tidak memilih incumbent (Paket Surya),” ujar Sugawa Korry seusai rapat evaluasi Golkar terkait Pilkada Buleleng 2017 di Singaraja, Minggu (19/2).

“Secara yuridis, incumbent menang Pilkada. Tapi, secara politis legitimasinya lemah. Ini (golput) angka fantastis yang kita jadikan pedoman untuk Pilgub Bali 2018 dan Pileg 2019. Kami tetap yakin Golkar bisa maksimal di Pilgub Bali 2018 ketika mengusung Ketut Sudikerta (Ketua DPD I Golkar Bali, Red),” ujar politisi asal Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng yang juga Wakil Ketua DPRD Bali ini.

Tingginya angka golput hingga 45 persen di Pilkada Buleleng 2017, kata Sugawa Korry, harus menjadi evaluasi semua pihak, baik penyelenggara (KPU), incumbent, maupun elemen masyarakat. Golput bisa terjadi karena rakyat yang masuk DPT malas pulang kampung untuk mencoblos Pilkada. Kemudian, karena tidak mendapatkan undangan, meskipun tercatat sebagai DPT. Faktor lainnya, tempat memilihnya pindah wilayah.

“Namun, golput tinggi itu sudah warning buat kita semua di Buleleng. Ini golput tertinggi di Bali. Pendukung Paket Surya, dari informasi yang saya terima, banyak tidak mendapatkan undangan memilih,” tegas mantan Ketua DPD II Golkar Buleleng 2010-2016 ini.

Apakah golput juga disebabkan karena kader Golkar tidak menentukan pilihan, lantaran partainya tidak usung calon di Pilkada Buleleng 2017? Menurut Sugawa Korry, kader Golkar kerja maksimal dan 100 persen datang ke TPS. “Kalau kader Golkar di Buleleng, saya yakin 100 persen datang ke TPS dan semuanya dukung Paket Surya. Kita sudah bisa petakan suara kita di Buleleng untuk Pilgub Bali 2017” ujar Sugawa Korry, yang Minggu kemarin memimpin langsung rapat evaluasi Pilkada 2017 di Kantor Sekretariat DPD II Golkar Buleleng, Jalan Ngurah Rai Singaraja. * nat

Komentar