DENPASAR, NusaBali Kamis, 1 Juli 2010
DPRD Bali 2009-2014 kembali kehilangan anggotanya dari Fraksi Demokrat akibat meninggal dunia. Setelah AA Putu Januraga yang meninggal karena kanker otak, kini menyusul vokalis Dewan dari Demokrat lainnya, Gusti Rai Putrayasa, 48, yang meninggal dunia atas penyakit yang masih simpang siur. Rai Putrayasa menghembuskan napas terakhir dalam perawatan di sebuah rumah sakit di Singapura, Selasa (29/6) malam.
Informasi meninggalnya Rai Putrayasa, politisi Demokrat kelahiran 31 Maret 1962, yang notabene Ketua Komisi II DPRD Bali ini tersebar melalui SMS, yang dikirimkan Ketua DPD Demokrat Bali IGB Alit Putra. Saat ditemui di Gedung Dewan, Nitimandala Denpasar, Rabu (30/6), Alit Putra yang juga Wakil Ketua DPRD Bali membenarkan Rai Putrayasa meninggal dunia.
Alit Putra mengatakan, Rai Putrayasa sempat masuk Ruang ICU RS Sanglah, Denpasar sehari sebelumnya, Senin (28/6). Namun, karena kondisinya kritisi, pihak keluarga memutuskan mengirimkan politisi muda Demokrat asal Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Badung ini ke Singapura dengan pesawat carteran.
Namun sayang, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Rai Putrayasa yang selama ini dikenal vocal menyuarakan aspirasi rakyat dan hati nuraninya meninggal dunia di Singapura, Selasa malam.
“Saya sempat mengecek beberapa kali, karena sebelumnya dia (Rai Putrayasa) sempat dirawat di RS Sanglah. Informasi yang saya terima, kondisinya kritis. Dia meninggal dunia di Singapura tadi malam (Selasa). Besok (hari ini) jenazahnya baru tiba di Bali, karena harus mengurus pengiriman dulu,” terang Alit Putra.
Informasi terakhir yang diperoleh NusaBali di rumah duka, Desa Kerobokan kemarin, jenazah Rai Putrayasa diperkirakan baru akan tiba di Bali, Kamis (1/7) sore ini sekitar pukul 17.00 Wita.
“Baru besok sore (hari ini) jenazahnya tiba. Almarhum sebelumnya menghembuskan napas terakhir di Singapura pukul 00.15 Wita,” ungkap Ketua DPC Demokrat Badung, I Gusti Ngurah Anom Adiputra, yang notabene kerabat dekat almarhum Rai Putrayasa.
Ditemui NusaBali secara terpisah di rumah duka, Jero Kanginan, Desa Kerobokan, Anom Adiputra mengatakan, selama ini almarhum Rai Putrajaya dunia tidak pernah mengeluh sakit. Namun, sejak seminggu terakhir, kondisi Rai Putrayasa mulai drop dan sesak napas.
Belum dipastikan, penyakit apa sejatinya yang merenggut nyawa Rai Putrayasa. Yang jelas, karena sesak papas, almarhum dilarikan ke RS Sanglah. Dari hasil diagnosa tim dokter, kata dia, Rai Putrayasa dinyatakan stroke. Kemudian, pihak keluarga berinisiatif membawa Rai Putrayasa ke Singapura.
Menurut Anom Adiputra, almahum Rai Putrayasa terbang ke Singapura untuk berobat dengan menyewa pesawat khusus, ditemani istri tercintanya, Jero Lestari Inti Herawati. “Setelah diperiksa tim dokter di Singapura, di bagian otak almarhum terdapat gumpalan darah,” jelas Anom Adiputra. “Pada tengah malam pukul 00.15 Wita, dinyatakan telah meninggal dunia,” imbuh politisi Demokrat yang gagal maju ke kursi DPRD Bali melalui Pileg 2009 ini.
Rai Putrayasa berpulang buat selamanya dengan meninggalkan seorang istri serta dua anak: I Gusti Bagus Pramana Adinata, 16, dan Gusti Ayu Dwipayani, 14. Karier Rai Putrayasa di politik terbilang cukup mentereng. Awalnya, almarhum sempat menjabat sebagai Ketua DPC Partai Pelopor Badung. Saat pegang jabatan itu, almarhum lolos ke kursi DPRD Badung 2004-2009 melalui Pileg 2004.
Di tengah jalan, Rai Putrayasa lompat pagar ke Demokrat. Bahkan, Rai Putrayasa langsung lolos ke kursi DPRD Bali 2009-2014 hingga alumnus Fakultas Hukum Unud 1988 ini dipercaya sebagai Ketua Komisi II Dewan.
Almarhum dikenal kritis dan vokal menyuarakan aspirasi rakyat maupun kader partainya. Sebulan lalu, Rai Putrayasa sempat bikin gonjang-ganjing ketika melontarkan isu kader muda layak diberi job strategis di Demokrat, terinspirasi oleh Kongres II Demokrat di Bandung, Jawa Barat. Wacana kader muda yang diledakkan almarhum Rai Putrayasa itu secara tidak langsung menohok barisan kader sepuh macam IGB Alit Putra cs. Wacana ini sempat lama bergulir jadi polemik.
Selaku Ketua DPD Demokrat Bali, IGB Alit Putra mengakui almarhum Rai Putrayasa merupakan salah satu kader terbaik partainya. Alit Putra menyebut Rai Putrayasa adalah Caleg Demokrat peraih suara tertinggi di Dapil Badung untuk kursi DPRD Bali pada Pileg 2009. “Kami merasa sangat kehilangan,” ujar Alit Putra, Rabu kemarin.
Meninggalnya Rai Putaryasa ini sekadar memperpanjang daftar anggota DPRD Bali kehilangan anggotanya akibat serangan penyakit. Tiga bulan sebelumnya, anggota Fraksi Demokrat DPRD Bali lainnya, AA Januraga, juga meninggal dunia akibat serangan kanker otak.
Sebelumnya, DPRD Bali 2004-2009 juga kehilangan salah satu anggotanya yang meninggal akibat serangan jantung. Dia adalah Komang Budhiarta, politisi Golkar yang kala itu menjabat Ketua Komisi C DPRD Bali. Budhiarta meninggal dunia usia main tenis di Nitimandala Denpasar, 22 Juli 2008 lalu.
Hingga Rabu kemarin, pihak DPD Demokrat Bali belum membahas soal PAW (pergantian antar waktu) DPRD Bali untuk almarhum Rai Putrayasa. Pasalnya, DPD Demokrat Bali baru saja mengajukan PAW untuk almarhum AA Januraga ke Sekwan Bali.
Menurut IB Alit Putra, pihaknya masih fokus menyiapkan acara untuk melayat ke rumagh duka, kediaman keluarga besar almarhum Rai Putrayasa di Kerobokan, bersama kader Demokrat lainnya. “Saya sudah laporkan meninggalanya almarhum (Rai Putrayasa) ke Ketua Umum DPP Dmeokrat Anas Urbaningrum. Namun, soal PAW nantilah, karena sekarang masih suasana berduka,” tegas Alit Putra.
Sementara itu, pihak keluarga duka hingga kemarin belum menetapkan serangkaian upacara pitra yadnya termasuk palebon untuk almarhum Rai Putrayasa. Menurut kerabat dekatnya, Anom Adiputra, pihak keluarga masih akan melakukan serangkaian paruman setelah jenazah almarhum tiba di rumah duka.
“Belum ada rencana untuk upacaranya, kami masih menunggu jenazah tiba dulu. Barulah setelah itu, kami mengadakan pertemuan palingsir keluarga,” ujar Anom Adiputra. Pantauan NusaBali, Rabu kemarin, di rumah duka telah dilakukan persiapan penyambutan jenazah almarhum.
Menurut Anom Adiputra, sebelum meninggal, almarhum Rai Putrayasa sempat melakukan serentetan upacara di beberapa pura penting yang ada di Bali. Selain itu, almarhum juga sempat melakukan konsolidasi dengan kader Demokrat Jembrana terkait rencana pencalonan untuk Pilkada Jembrana 2010.
Di sisi lain, berita meninggalnya Rai Putrayasa ini mengejutkan kalangan anggota DPRD Bali. Mereka seolah tak percaya kalau Rai Putrayasa yang dikenal santai dalam bertugas, berpulang begitu cepat. Apalagi, almarhum tidak pernah mengeluh sakit.
Rai Putrayasa terakhir kali bergabung dengan rekan-rekannya sesma anggota Dewan menghadiri acara pembukaan PKB di Taman Budaya Art Center Denpasar, 12 Juni 2010 lalu. “Saat itu, almarhum saya lihat ikut hadir. Setelah itu, mungkin beliau masuk ke kantor tapi saya tidak ketemu,” ujar Ketua Komisi IC DPRD Bali dari Fraksi PDIP, Nyoman Parta.
Di mana rekan-rekannya, Rai Putrayasa memang terlihat kerja tanpa beban. Pembawaannya memang santai. Hal itu diakui I Gusti Putu Widjera, anggota Fraksi Demokrat DPRD Bali dari Dapil Karangasem. “Kesehariannya, almarhum sangat rileks, seperti tidak ada masalah. Pembawaan beliau santai,” ujar Widjera. 7 nat,zu |