|« kembali| ||

Guruh Siap Gantikan Sukma





DENPASAR, NusaBali
Senin, 5 Juli 2010


Ketua Umum DPP PNI Marhaenisme (PNIM), Sukmawati Soekarnoputri, menegaskan adik kandungnya, Guruh Soekarnoputri, sudah siap gabung ke partainya. Bahkan, Guruh yang kecewa berat di PDIP telah menyatakan sia[ memimpin PNIM, mengantikan Sukmawati.

Penegasan itu disampaikan Sukmawati---putri bungsi mendiang Presiden Soekarno dari pernikahannya dengan Fatwati---di sela-sela menghadiri perayaan HUT PNIM di Sekretariat DPD PNIM Bali di kawasan Sanur, Denpasar Selatan, Minggu (4/7).

Sukmawati menyebutkan, sebenarnya sudah lama Guruh sering curhat kepada dirinya soal kekecewaannya di PDIP. Menurut Sukma, adik bungsunya yang juga seniman dan budayawan itu ingin hengkang ke PNIM, karena sudah terjadi akumulasi kekecewaan di PDIP, partai nasionalis yang dipimpin kakaknya, Megawati Soekarnoputri.

Dikatakan Sukma, Guruh wajar kecewa berat karena telah diperlakukan kurang adil di PDIP.  "Sebenarnya, sudah lama Guruh curhat soal ini.  Kita telah intens berkomunikasi dengan dia (Guruh). Tapi, nanti prosesnya (Guruh gabung ke PNIM) ‘kan di Kongres PNIM,” tandas Sukmawati.

”Yang jelas, Guruh sudah ada sinyal soal esiapannya memimpin PNIM. Ya, karena dia kecewa di PDIP.  Selama berada di PDIP, terjadi banyak sekali hal yang bertentangan dengan hati nurani Guruh sebagai kader partai. Termasuk ketika dia tidak diperhatikan di Kongres II PDIP (di Inna The Grand Bali beach Hotel Sanur, April 2010 lalu," imbuh Sukma yang kemarin didampingi Ketua DPD PNIM Bali I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dan Sekretaris DPD PNIM, Ida Bagus Ketut Kiana. Menurut Sukmawati, komunikasi Guruh dengan PNIM sangat serius. Dalam beberapa kali bertemu dengan Sukma, Guruh menyatakan komitmen untuk gabung ke PNIM. "Artinya dia memang ingin ke PNIM dan siap memimpin PNIM. Saya terakhir kali juga meminta komitmennya dan masih tetap begitu. Alasannya juga ada yang khusus,” tandas Sukma.

Apa alasan khusus itu? "Ya, karena ajaran Bung Karno yang diterapkan di PNIM tidak pernah dilaksanakan di PDIP. Sehingga, Guruh kita ajak gabung untuk membesarkan PNIM. Semua DPD PNIM se-Indonesia sudah diajak komunikasi soal keinginan menjadikan Guruh sebagai Ketua Umum DPP PNIM," imbuhnya.

Ketika ditanya, apa ini membuktikan tidak ada kader lain selain trah Soekarno yang layak memimpin PNIM, Sukma membantahnya. Namun, menurut Sukma, upaya mengajak Guruh bergabung ini semua atas keinginan kader-kader PNIM. Bali sendiri disebutnya sebagai motor penggerak untuk menjadikan Guruh pemimpin PNIM.

Mengenai peluang PNIM bisa ikut Pemilu 2014 dengan bergabungnya Guruh, menurut Sukma, partainya tetap akan berjuang secara politik supaya bisa ikut Pemilu. Perjuangan PNIM ikut Pemilu 2014 tidak akan pernah surut, meskipun beberapa partai besar ingin menjegal partai-partai gurem.

"Kita tetap berjuang bersama kader PNIM. Karena, bisa atau tidak ikut Pemilu, nantinya tergantung aturannya. Memang sudah ada penjegalan dari partai besar agar PNIM dan partai lainnya tidak bisa ikut Pemilu. Tapi, kita berupaya dan harus bisa," tegas Sukma.

Di sisi lain, kubu PDIP tidak mempersoalkan rencana gabungnya Guruh ke PNIM. PDIP juga tidak gusar, meskipun kelak Gurung loncat pagar memimin PNIM.

Kepada NusaBali, Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Politik DPD PDIP Bali, Nyoman Parta, menyatakan hengkangnya Guruh dari PDIP ke PNIM sah-sah saja. Pasalnya, dalam era keterbukaan dan multipartai, perpindahan orang dari satu partai ke partai yang lain tidak bisa dihindarkan. 

"Berkaitan dengan Guruh yang akan memimpin PNIM, tentu saja harus diantisipasi oleh elite partai, termasuk DPD PDIP Bali. Intinya, PDIP harus menyempurnakan mekanisme rekrutmen, agar lebih adil dan demokratis. Ada ukuran yang jelas antara reward dengan funishment," ujar Parta.

Menurut Parta, PDIP mau tak mau harus memperbanyak forum-forum dialog antar kader, selain melaksanakan aturan main partai secara konsisten dan bertanggung jawab. "Ketika ada kader partai yang pindah dan tidak loyal, janganlah berhenti pada mengatakan kader bersangkutan pengkhianat atau tidak loyal. Tapi, juga harus dilakukan pembenahan secara internal," tegas Parta yang juga Ketua Komisi IV DPRD Bali dari Fraksi PDIP.

Sebelumnya diberitakan, ada beberapa alasan kenapa Sukmawati dan petinggi DPP PNIM lainnya antusias ingin menangkap Guruh untuk memimpin partai nasionalis ini. Salah satunya, kubu PNIM tidak mau Guruh membentuk partai baru, menyusul kekecewaannya di PDIP pasca Kongres III di Inna The Grand Bali Beach Hotel Sanur, Denpasar, Bali, April 2010 lalu.

“Baliau itu (Guruh) berniat mendirikan partai baru. Nah, oleh Ibu (Sukmawati), Guruh disarankan lebih baik pimpin PNIM saja, daripada repot-repot bikin bartai. Lagian, para kader juga membuka pintu lebar- lebar bagi Guruh untuk memimpin DPP PNIM,” ungkap Wedakarna kepada NusaBali di Denpasar, Sabtu (3/7).

Ditambahkan Wedakarna, hampir seluruh DPD PNIM se-Indonesia sudah memberikan lampu hijau bagi Guruh untuk mengambil-alih tongkat kepemimpinan partainya dari tangan Sukmawati. Jika Guruh bersedia pimpin PNIM, Sukmawati nantinya akan menempati posisi Ketua Dewan Pembina PNIM.

Guruh memang sempat berniat bikin partai baru, pasca insiden perseteruannya dengan sang kakak, Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum DPP PDIP) terkait pencalonan ketua umum dalam Kongres III PDIP di Sanur, April lalu. Jika Guruh yang kini anggota DPR RI bikin partai baru juga, maka praktis akan terjadi tarung segi empat antar sesama putra-putri Bung Karno: Megawati, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati, dan Guruh. Pasalnya, Rachmawati juga sudah lebih dulu memimpin partai beraliran Marhanisme, yakni Partai Pelopor.

Sementara itu, munculnya Sekretariat Gabungan (Setgab) parpol koalisi pendukung SBY-Boediono dan Konfederasi Partai yang diwacanakan PAN, dianggap sebagai awal dari rivalitas Aburizal Bakrie alias Ical vs Hatta Radjasa jelang Pilpres 2014.

Ical yang notabene Ketua Umum DPP Golkar, saat ini menjadi Ketua Setgab parpol koalisi. Sedangkan Hatta Radjasa merupakan Ketua Umum DPP PAN. Baik Ical (representasi Golkar) maupun Hatta (representtasi PAN) sama-sama berusaha menggaet parpol gurem masuk dalam barisannya.

"Hiruk-pikuk tarik menarik ormas dan parpol-parpol yang tak lolos parliamentary threshold pada Pemilu 2009, yang diinisiasi Golkar maupun PAN sepekan terakhir, tidak lepas dari rivalitas Ical dan Hatta menuju kursi RI-1 tahun 2014 mendatang," analisis politisi PPP, Romahurmuzy, di Jakarta, Minggu kemarin.

Dengan berakhirnya kepemimpinan SBY pada 2014 mendatang, menurut Romi (panggilan akrab Romahurmuzy), rivalitas antara Ical vs Hatta tak terhindarkan, karena ini adalah konsekuensi demokrasi. Rivalitas ini memanfaatkan momentum belum adanya successor yang dinominasikan SBY dari internal Demokrat sebagai partai pemenang Pemilu 2009. "Sebagaimana kebiasaan SBY di mana keputusan selalu last minute, momentum rivalitas Ical vs Hatta ini masih akan banyak menyimpan maneuver, mengingat lamanya waktu menuju Pemilu 2014," papar Romi kepada detikcom. Sebagai pemimpin yang sangat peduli citra, imbuh Romi, keputusan last minute akan sangat dipengaruhi survei elektabilitas berkala dari pemimpin-pemimpin nasional yang sampai sekarang terus dilakukan SBY.

"Jika tidak diantisipasi dengan baik, rivalitas ini berpotensi men-depopularisasi dan men-diselektabilisasi Demokrat pada Pemilu 2014," katanya.

Gerakan 'memborong' partai-partai kecil ini, lanjut Romi, akan diikuti dengan upaya yuridis mempersulit partai-partai yang baru lahir untuk mengikuti Pemilu 2014. Pertanyaan yang akan muncul, apakah upaya-upaya yang dilakukan oleh para politisi tersebut sehat dan sah? "Jawabannya, realitas politik bukan melulu soal sehat dan sah, tapi soal mungkin atau tidak berdasarkan perimbangan suara kursi di parlemen yang menopang lahirnya sebuah undang-undang," tutup Romi. Sementara, Ical sendiri tidak menganggap Hatta Rajasa sebagai saingan, apalagi menjadi lawannya dalam Pilpres 2014. "Hatta itu adik saya," kata Ical di sela-sela acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Wilayah Jawa-Bali-NTB Partai Golkar di Mega Kuningan, Jakarta, Minggu kemarin.

Ditanya soal konfederasi partai yang diusung oleh PAN, Ical malah mengaku belum baca dan tidak tahu menahu soal itu. "Saya nggak pernah dengar ada usulan itu. Saya nggak tahu ada konfederasi, nggak pernah dihubungi, saya tidak pernah tau, tidak pernah baca," jawab Ical. Secara terpisah, pengamat politik dari Indobarometer, Muhammad Qodari, menyatakan terlalu dini menyebut rivalitas Ical vs Hatta di Pilpres 2014. Setgab, menurut Qodari, Setgap dibentuk vuma untuk menguatkan pemerintahan SBY-Boediono saja. "Menurut saya terlalu jauh. Setgab dibentuk untuk kepentingan pemerintahan SBY-Boediono. Dugaan saya, menjelang Pilpres, mereka akan jalan sendiri-sendiri," kata Qodari.

Masing-masing anggota Setgab, menurut Qodari, kemungkinan akan menjagokan calon-calonnya sendiri dalam Pilpres 2014. Kondisinya tak jauh beda dengan Pemilu 2004 silam. "SBY kan tidak bisa mencalonkan lagi. Dugaan saya, kondisinya seperti Pilpres 2004 di mana semua parpol punya calon sendiri," papar Qodari.

Apalagi, lanjut Qodari, ide konfederasi yang digagas PAN masih sangat prematur. Justru Golkar yang sebenarnya paling berpeluang untuk menggagas konfederasi. "Ketimbang PAN, justru Golkar yang lebih berpeluang. Karena, konfederasi menjadi menarik jika ada satu partai yang punya kekuatan besar. Malah, partai kecil seperti PBR sekarang mau gabung ke Golkar." 7 nat





2010-07-04 22:35:03 - admin