NEGARA, NusaBali
Rabu, 7 Juli 2010
PDIP inginkan pertarungan head to head alias satu lawan satu di Pilkada Jembrana, 27 Desember 2010. Ini dianggap sebagai jurus paling efektif untuk mengalahkan figur incumbent Gede Winasa, Bupati Jembrana yang sudah mendeklarasikan akan maju lagi ke Pilkada 2010 dengan posisi Cawabup mendampingi putranya, Gede Patriana Krisna. Sebaliknya, Winasa justru berusaha hindari tarung head to head.
PDIP berharap, di Pilkada Jembrana 2010 nanti hanya ada dua paket Cabup-Cawabup. Satu pasangan sudah hampir dipastikan paket Cabup-Cawabup ‘Anak-Bapak’ Winasa-Patriana Krisna. Sedangkan satu pasangan lagi adalah paket Cabup-Cawabup yang diusung bersama PDIP, Demokrat, Golkar diback-up parpol-parpol lainnya.
“Kalau kita berharap dua pasangan Cabup-Cawabup saja tarung di Pilkada 2010,” ujar Ketua DPC PDIP Jembrana, Made Kembang Hartawan, kepada NusaBali di Negara, Selasa (6/7).
Kembang Hartawan menyebutkan, saat ini ada dua kelompok berseberangan di Jembrana. Pertama, kelompok yang puas dengan kepemimpinan Bupati Winasa. Kedua, kelompok yang tidak puas terhadap kepemimpinan Bupati Winasa. “Nah, bila hanya ada dua paket Cabup-Cawabup di Pilkada, maka kelompok yang tidak puas dengan kepemimpinan Winasa akan bersatu padu di kubu paket Cabup-Cawabup lainnya,” jelas Kembang yang juga Ketua DPRD Jembrana.
Sebaliknya, bila nantinya ada lebih dari dua pasangan Cabup-Cawabup di Pilkada Jembrana 2010, menurut Kembang, maka kelompok yang tidak puas terhadap kepemimpinan Winasa akan terbelah. Kondisi ini justru memperbesar peluang Winasa untuk naik lagi ke tampuk kekuasaan, sekalipun hanya menduduki kursi wakil bupati.
Itu sebabnya, saat ini muncul wacana koalisi besar tiga parpol raksasa besar di Jembrana yakni PDIP, Demokrat, dan Golkar untuk kepentingan Pilkada 2010. dari koalisi tiga parpol besar ini diharapkan muncul satu pasangan Cabup-Cawabup yang mampu menghadang langkah paket ‘Anak-Bapak’ Patriana Krisna-Winasa di Pilkada 2010.
Hanya saja, menurut Kembang, untuk menentukan munculnya pasangan Cabup-Cawabup dari koalisi besar ini masih dikomunikasikan oleh masing-masing parpol ke tingkat yang lebih tinggi (DPD hingga DPP). “Kalau PDIP sudah komunikasikan, tapi formulanya (pasangan Cabup-Cawabup) yang tentukan nanti pusat, karena mungkin pusat punya kajian khusus,” terang Kembang.
Selain itu, menyatakan PDIP, Demokrat, dan Golkar ibarat menyatakan api dan air. Masalahnya, bukan tak mungkin tiga parpol besar ini nantinya sama-sama ngotot ingin menduduki posisi Jembrana 1 (Cabup). Apalagi, terutama Demokrat, juga memenuhi syarat minimal 15 persen suara untuk mengusung calon sendiri.
Ditanya soal rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana yang belum kunjung diturunkan DPP PDIP, padahal Rakercabsus sudah digelar Desember 2009 lalu, menurut Kembang, rekomendasi kemungkinan akan keluar dalam wkatu dekat. Soal siapa nantinya yang diusung sebagai Cabup-Cawabup versi rekomendasi DPP PDIP, tentunya mereka yang memiliki potensi untuk memenangkan Pilkada Jembrana 2010.
Wacana yang berkembang, figur independen IGM Kartikajaya santer disebut-sebut akan mendapat rekomendasi sebagai Cabup Jembrana dari DPP PDIP. Pendampinginya di posisi Cawabup adalah Putu Artha, kader PDIP yang kini masih menjabat Wakil Bupati Jembrana.
Namun, belakangan sempat muncul isu gerakan menghadang Kartikajaya. Kabarnya, Putu Artha menggalang dukungan para perbekel untuk bisa menjadi Cabup Jembrana. Hasil penggalangan itu kemudian disodorkan ke DPP PDIP.
Spekulasi yang kemudian berkembang pun semakin liar. Bupati Winasa dicurigai ikut bermain di balik semua ini. Targetnya, Winasa berharap di PDIP muncul paket Putu Artha-Kembang Hartawan sebagai Cabup-Cawabup Jembrana ke Pilkada 2010.
Dengan majunya paket Putu Artha-Kembang Hartawan ini, Winasa merasa lebih mudah bagi paket ‘Anak-Bapak’ Patriana Krisna- Winasa untuk mengalahkannya di Pilkada Jembrana 2010. Sebab, dari peta kekuatan, Winasa menganggap Putu Artha-Kembang masih kelas ‘ayam sayur’.
Kondisinya akan berbeda jika yang dimunculkan PDIP adalah paket Kartikajaya-Putu Artha sebaga Cabup-Cawabup Jembrana. Konon, Winasa menganggap paket Kartikajaya-Putu Artha ibarat gajah yang memiliki power politik, sehingga bisa menjadi sandungan bagi paket ‘Anak-Bapak’ di Pilkada 2010.
Bupati Winasa membantah dirinya putuskan maju ke Pilkada Jembrana 2010 berupaya menghadang Kartikajaya. Winasa mengaku keputusannya maju ke Pilkada Jembrana 2010 dengan posisi Cawabup mendampingi putra sulungnya, Patriana Krisna, justru untuk menghindari terjadinya tarung head to head.
Menurut Winasa, dirinya justru senang dengan hadirnya Kartikajaya, karena berarti akan banyak kandidat yang ikut tarung dalam Pilkada Jembrana 2010. Dengan banyak pasangan Cabup-Cawabup, Winasa meyakini incumbent dalam hal ini dirinya akan mampu memenangkan pertarungan Pilkada Jembrana 2010.
Dikatakan Winasa, lain halnya ketika terjadi head to head di mana salah satu pasangan Cabup-Cawabup adalah paket ‘Anak-Bapak’ Patriana Krisna-Winasa. Bila sampai terjadi head to head, Winasa khawatir gagal meraih kemenangan. Pasalnya, ketika head to head, maka yang menjadi lawan politiknya selama ini akan bersatu mendukung rivalnya di Pilkada 2010. “Saya senang banyak pemainnya, karena incumbent pasti menang,” tegas Winasa kepada NusaBali secara terpisah.
Gelagat akan terjadinya head to head itu sudah dilihat Winasa. Begitu Winasa menyatakan akan maju ke Pilkada Jembrana 2010 sebagai Cawabup mendampingi Patriana Krisna melalui jalur Independen, mendadak muncul hasrat tiga parpol besar yakni PDIP, Demokrat, Golkar untuk membangun koalisi besar buat menghadang dirinya.
Sementara itu, pernyataan Ketua Departemen Pemuda dan Olahraga DPP Demokrat, Gede Pasek Suardika, yang berjanji akan mempertimbangkan Patriana Krisna diusung partainya dalam Pilkada Jembrana 2010, asalkan Winasa tidak nyalon lagi, mendapat reaksi keras. Salah satunya, reaksi dari IB Mantra, Tim Sukses SBY-JK dalam Pilpres 2004 yang kini Bendesa Adat Batuagung, Jembrana.
Intinya, Mantra tidak setuju Patriana Krisna yang notabene tokoh non-kader diusung Demokrat sebagai Cabup atau Cawabup Jembrana. Menurut Mantra, seharusnya Pasek Suardika turun ke Jembrana untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di akar rumput, siapa saja calon yang diinginkan dan mana yang tidak diinginkan. Jangan hanya datang terima laporan, lalu makan di restoran dan setelah itu pulang.
“Sesekali, turun dengarkan aspirasi masyarakat, baik pedagang maupun nelayan, biar betul-betul calon yang berkualitas diusung,” ujar salah satu pejuang Demokrat ini kepada NusaBali di Negara, Selasa sore.
Mantra juga mengatakan, dalam tarung Pilkada serentak di lima daerah di Bali, 4 Mei 2010 lalu, calon-calon non-kader yang diusung Demokrat gagal merebut tiket kepala daerah. Untuk itu, Mantra berharap fakta ini bisa dijadikan bahan pertimbangan Tim 9 dalam Pilkada Jembrana 2010.
Intinya, Mantra meminta Tim 9 memprioritaskan kader internal sebagai Cabup di Pilkada Jembrana 2010. “Sebagai tokoh Demokrat yang berjuang saat masa sulit, saya minta janganlah dipakai bisnis partai ini ketika sudah besar seperti sekarang,” sindir Mantra.
Menyikapi hal ini, Ketua PAC Demokrat Kecamatan Mendoyo, Gede Suratama, mengatakan apa yang dikatakan Mantra sah-sah saja. Hanya saja, secara kebetulan pihaknya senada dengan Mantra bahwa sebaiknya Demokrat mengusung kader sendiri sebagai Cabup di Pilkada Jembrana 2010.
Alasannya, kata Suratama, bila non-kader yang diusung, dikhawatirkan terjadi benturan dengan aspirasi Demokrat. “Kalau-non kader yang naik jadi Cabup, takut nanti benturan dengan struktural partai,” ujar Suratama.
Sedangkan Ketua PAC Demokrat Kecamatan Negara, Ketut Panca Bayu, juga mengapresiasi apa yang disampaikan Mantra. Dikatakan Panca Bayu, memang benar dari awal Mantra sudah banyak berbuat dan berjuang untuk Demokrat. Untuk itulah Panca Bayu mendukung pernyataan Mantra agar sosok Cabup yang nanti diusung benar-benar sesuai dengan aspirasi arus bawah.
Saat ini, kata Panca Bayu, sebagian besar pengurus dan kader Demokrat di Jembrana cenderung aspirasinya mengingingkan usung kader internal sebagai Cabup. “Makanya, sekali-kali Pak Pasek turun ke Jembrana,” ujar Panca Bayu. 7 pam |