DENPASAR, NusaBali Sabtu, 17 Juli 2010
Serentetan kasus pembunuhan di tempat hiburan malam (dugem) yang dipicu aksi premanisme, mendapat perhatian serius DPRD Bali. Dewan segera panggil Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali untuk ikut memecahkan masalah ini. Sementara, Gubernur Bali Made Mangku Pastika teriak agar premanisme dibasmi tuntas.
Ketua Komisi I DPRD Bali (yang membidangi hukum dan keamanan), Made Arjaya, mengatakan aksi premanisme saat ini sudah sampai taraf meresahkan masyarakat. Kasus terakhir, penyerangan kelompok bersenjata melibatkan 30-an orang berbadan tegap ke Bar Red Room Legian, Kuta, Badung, Rabu (14/7) dinihari, hingga menelan satu korban tewas dan satu luka berat hingga sekarat.
Jika aksi premanisme ini tidak dicegah, menurut Arjaya, korban-korban akan terus berjatuhan. Aksi premanisme bisa meluas, sehingga dampaknya seolah-olah petugas keamanan tidak mampu dan tak berdaya. Krama di wilayah adat pun dibuat resah oleh aksi premanisme ini, sehingga mereka tidak bisa bekerja dengan leluasa, karena takut muncul aksi susulan.
“Aksi premanisme ini sudah sangat meresahkan dan mencoreng citra keamanan Bali sebagai daerah tujuan wisata. Karena itu, Majelis Utama Desa Pakraman Provinsi Bali kita ajak ikut mencari solusi. Kapolda Bali (Irjen Sutisna) juga akan kita undang membahas masalah ini,” tegas Arjaya di Kantor DPRD Bali, Nitimandala Denpasar, Jumat (16/7).
“Ya, kita bersama desa adapt dan kepolisian harus tegas bersikap. Mau Bali aman atau Bali kehilangan turis? Jangan sampai desa adapt dan petugas keamanan dipandang sebelah mata. Kita berharap ada tindakan tegaslah (terhadap premanisme),” lanjut politisi PDIP ini seraya menyebut petinggi MUDP Bali dan Kapolda akan diundang untuk hearing di Gedung Dewan, pekan depan.
Dewan juga meminta pemerintah kabupaten/kota se-Bali, terutama yang jadi kawasan pariwisata, supaya bisa mencegah bersama-sama aksi premanisme yang sudah meresahkan ini. Caranya, dengan penertiban tempat hiburan malam, jam operasi dugem, dan soal izin mereka. Kalau bisa, kata Arjaya, pengamanan tempat dugem melibatkan polisi, sehingga insiden maut seperti di Bar Red Room tidak terulang. “Untuk mengantisipasi kasus seperti ini ‘kan bukan hanya tugas polisi, ya kita bersama-sama ,” terang Arjaya.
Sementara, Gubernur Made Mangku Pastika menegaskan persoalan premanisme ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Premanisme tidak ada tempat di Bali. ”Itu harus diselesaikan. Tidak ada tempat bagi preman di Bali. Ini sudah sangat meresahkan. Tapi, kita kasih waktu polisi untuk menyelesaikannya. Saya sudah telepon Kapolda Bali soal ini,” jelas Pastika yang juga mantan Kapolda Bali dan Kalakhar BNN.
Pastika menegaskan, Kapolda Bali Irjen Sutisna sudah berbicara masalah kasus kekerasan (premanisme) di kawasan wisata Kuta dan sekitarnya yang semakin meresahkan masyarakat ini. Intinya, Kapolda juga berupaya membasmi aksi premanisme ini.
Ditanya soal imbauan DPRD Bali agar desa adat dilibatkan dalam pengamanan, menurut Pastika, polisi-lah yang di posisi terdepan. ”Kita juga bisa bantu. Nanti saya bicara lagi dengan Kapolda. Dan, Kapolda juga sudah bilang begitu. Bagaimana teknis dan carany, nanti kita bicarakan," ujar Gubernur Bali yang diusung PDIP ini.
“Yang pasti, masalah premanisme harus diselesaikan tuntas. Sebab, apa yang dilakukan mereka itu (kaum preman) telah mencoreng citra pariwisata Bali. Kita tunggu kerja polisi,” lanjut Pastika yang dikonfirmasi NusaBali di sela-sela rapat koordinasi dengan pejabat instansi vertikal dan SKPD Pemprop Bali di Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur, Nitimandala Denpasar, Jumat kemarin.
Sebelumnya, kelompok bersenjata yang diperkirakan berjumlah 30-an orang dan rata-rata berbadan besar, melakukan penyerangan terbuka di Bar Red Room, Jalan Diana Pura (Camplung Tanduk) Kuta, Rabu dinihari pukul 02.30 Wita. Akibat serangan itu, seorang karyawan bagian koki Bar Red Room tewas dicacah.
Korban tewas ini adalah Bagus Alit Edi Sastrawan, 28, karma dari Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung yang sedang dalam persiapan menikah. Selain itu, jatuh satu korban luka berat yakni Yesaya Karmoi, petugas security Bar Red Room asal Alor, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum menyerbut Bar Red Room, kelompok bersenjata yang diduga berjumlah 30-an orang sempat Diskotek Sky Garden Kuta. Kelompok bersenjata yang berbadan rata-rata besar itu langsung ngamuk di dalam Bar Red Room, hingga sejumlah fasilitas rusak. Habis ngamuk dengan senjata hingga menewaskan Bagus Alit dan melukai Yesaya, kelompok ini langsung kabur.
Kapolda Bali Irjen Sutisna berjanji akan memberangus aksi premanisme di wilayah tujuan wisata internasional ini. “Kalau sudah meresahkan, tentunya premanisme akan kita berangus,” janjinya.
Dari sas-sus yang berkembang, penyerangan yang menewaskan Bagus Alit pagi itu adalah buntut masuknya kelompok massa (preman) dari luar Bali ke Pulau Dewata. Kelompok yang punya nama besar di Jakarta itu konon sejak beberapa bulan terakhir sudah mulai menginvasi daerah kekuasan kelompok di Bali.
Karena itu, menurut sumber NusaBali, kelompok bersenjata yang selama ini biasa mengamankan tempat-tempat hiburan malam (dugem) di kawasan wisata Kuta dan sekitarnya, mulai tersingkirkan. Dugaan persaingan itu lintas-daerag itu yang kemudian memicu insiden maut di Bar Red Room.
Sementara itu, polisi mulai melakukan sweeping terhadap orang yang diduga preman di kawasan wisata Kuta, Badung, pasca penyerangan kelompok bersenjata di Bar Red Room. Dalam sweeping pertama, Jumat (16/7) dinihari, dua petugas security tempat hiburan malam (dugem) diamankan polisi ke Mapoltabes Denpasar.
Sweeping yang digelar di sejumlah tempat dugem kawasan wisata Kuta, Jumat dinihari sekitar pukul 00.30 Wita, melibatkan 87 petugas gabungan dari Sat Reskrim, Intel, dan Samapta Poltabes Denpasar, serta Polsek Kuta. Sasaran dalam sweeping kemarin adalah para petugas security. Mereka digeledah satu per satu barang bawaan yang dianggap membahayakan bagi orang lain. Selain security, polisi juga mensweeping warga yang diduga preman di seputaran Kuta.
Hasilnya, polisi berhasil mengamankan dua petugas security yang kedapatan membawa senjata tajam. “Satu orang yang kita amankan adalah security dari Diskotek Sky Garden (Kuta), sedangkan satunya lagi security dari Double Six,” ungkap Pahumas Poltabes Denpasar, Kompol Sang Gede Sukawiyasa.
Kedua security yang pria lokal Bali yang diamankan polisi tersebut, lanjut Sukawiyasa, menyimpan senjata tajam jenis pisau dan gir sejenis rotikalung. Senjata tajam itu ditemukan tergantung di tembok bersama jaket para security tersebut di tempatnya bertugas.
Hanya saja, dari dua petugas security yang diamankan ini, belum satu pun ditetapkan sebagai tersangka. “Status mereka masih sebagai saksi, dan saat ini diperiksa intensif di Mapoltabes Denpasar,” papar Sukawiyasa.
Ditanya apakah dua petugas security yang diamankan ini ada kaitannya dengan kasus pembantaian di Bar Red Room, Legian, Kuta yang menewaskan Bagus Alit Edi Sastrawan dan satu lagi korban luka parah, menurut Sukawiyasa, pihaknya masih mendalaminya. “Masih kita dalami. Yang jelas, hingga hari ini (kemarin) statusnya masih sebagai saksi,” jelasnya.
Setelah sweeping yang menciduk dua security dari Sky Garden dan Double Six, dinihari kemarin, polisi berencana akan menggelar sweeping susulan. Selain itu, Poltabes Denpasar juga berencana memanggil beberapa pengelola tempat hiburan malam, Senin (19/7) lusa. “Rencananya memang hari Senin ini akan kita kumpulkan mereka (para pengelola dugem),” tegas Sukawiyasa.
Sementara itu, jajaran Poltabes Denpasar mulai memperdalam fokus penyelidikan kasus penyerangan kelompok bersenjata di Bar Red Room, Legian, Kuta ke arah tersangka. Pasalnya, dari hasil mpemeriksaan terhadap delapan saksi dan pengumpulan barang bukti, sudah ada titik terang.
“Sudah ada titik terang. Ada beberapa nama yang agaknya mengarah ke calon tersangka,” terang Sukawiyasa, Jumat kemarin. Dari beberapa nama yang dicurigai itu, kata dia, ada satu nama yang kini jadi fokus penyelidikan polisi. Namun, polisi belum bisa melakukan penangkapan, karena masih dalam pengembangan.
Satu calon tersangka itu, menurut Sukawiyasa, adalah pelaku penebasan terhadap korban Bagus Alit Edi Sastrawan di dalam Bar Red Room, Rabu dinihari. “Saat ini, masih terus diupayakan oleh anggota untuk mengejarnya,” ujar Sukawiyasa seraya enggan menyebut identitas calon tersangka dan dari kelompok mana yang bersangkutan. 7 nat,h |