|« kembali| ||

PDIP Jembrana Bergolak





DENPASAR, NusaBali
Senin, 19 Juli 2010


Suhu politik di internal PDIP Jembrana memanas, menyusul belum kunjung turunnya rekomendasi Cabup-Cawabup dari DPP PDIP. Bahkan, Minggu (18/7) digelar pertemuan khusus yang melibatkan 40 Rating PDIP dan 2 PAC PDIP se-Jembrana. Dari pertemuan itu, DPP PDIP didesak agar mengeluarkan rekomendasi calon yang aspiratif, tanpa terpengaruh oleh manuver sejumlah elite partainya di Jembrana.

Pertemuan 40 Rating PDIP se-Jembrana, Minggu kemarin, digelar di kediaman salah seorang tokoh Partai Banteng Gemuk, Putu Dwita, di Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Kota Negara. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan dari dua Pengurus Anak Cabang (PAC) yakni PAC PDIP Kecamatan Mendoyo dan PAC PDIP Kecamatan Pekutatan. Sejumlah panglingsir PDIP Jembrana juga hadir dalam pertemuan yang digelar untuk menyikapi terjadinya beragam manuver kalangan elite DPC PDIP Jembrana tersebut.

Dari pertemuan berskala besar itu, dicetuskan pernyataan sikap politik secara tertulis yang ditandatangai seluruh hadirin. Pernyataan sikap politik secara tertulis ini kemudian dikirimkan ke DPP PDIP di Jakarta. Ada empat butir penting yang dituangkan dalam pernyataan sikap politik ini.

Pertama, DPP PDIP diingatkan agar menjadikan hasil Rakercabsus PDIP Jembrana, 26 Desember 2009, sebagai referensi dalam mengambil keputusan terkait rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana---yang hingga kiini belum kunjung diturunkan. Referensi ini menjadi satu keharusan, mengingat Rakercabsus merupakan penjaringan calon melalui mekanisme partai.

DPP PDIP diharapkan membuat keputusan yang objektif dan aspiratif terkait rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana ke Pilkada 2010, bukan berdasarkan pertimbangan subjektif. Pasalnya, terkuak ada informasi yang disampaikan elite tertentu yang data dan faktanya bersifat manupulatif, jauh dari kondisi sesungguhnya di Jembrana.

Kedua, utusan 40 Ranting dan 2 PAC PDIP juga juga menohok elite DPC PDIP Jembrana yang dinilai telah melakukan maneuver politik dengan cara mengingkari aspirasi partai dan masyarakat. Caranya, elite DPC PDIP ini mewacanakan usung paket Cabup-Cawabup dengan formasi kader-kader atau kader-koalisi parpol.

Hal ini dianggap tidak akomodatif dan aspiratif, karena mengabaikan realitas politik dan kondisi sesungguhnya di Jembrana. Maklum, menyusul rencana majunya Bupati Jembrana Gede Winasa ke Pilkada 2010 dengan posisi sebagai Cawabup pendamping putra sulungya, Gede Patriana Krisna, DPC PDIP Jembrana merapat ke Demokrat dan Golkar untuk membangun koalisi besar. Koalisi tiga parpol besar ini intinya untuk menghadang Winasa bersama-sama, sehingga paket Cabup-Cawabup yang diusung pun bisa berbeda dari rekomendasi DPP PDIP. Dalam pertemuan kemarin, 40 Rating PDIP dan 2 PAC PDIP menyatakan elite DPC PDIP Jembrana telah terkontaminasinya oleh skenario politik eksternal gaya Bupati Winasa. Padahal, skenario politik eksternal ini tentunya memiliki tujuan-tujuan yang sifatnya merugikan PDIP sendiri.

Butir ketiga, 40 Rating PDIP dan 2 PAC PDIP tidak mentoleransi segala manuver politik internal. Pasalnya, manuver politik itu tidak mengedepankan kepentingan partai, melainkan justru untuk merealisasikan deal-deal politik pribadi saat Konfercab PDIP Jembrana beberapa waktu lalu.

Butir keempat, jika DPP PDIP ternyata merekomendasi pasangan Cabup-Cawabup Jembrana tidak berdasarkan pertimbangan objektif, faktual, dan aspiratif, maka kader partai dan jajajran 40 Ranting PDIP plus 2 PAC PDIP se-Jembrana akan menyampaikan petisi penolakan. Hal ini dilakukan semata untuk penyelamatan partai.

Dan, bila paket Cabup-Cawabup Jembrana hasil rekomendasi DPP PDIP ternyata tidak berdasarkan pertimbangan yang objektif dan faktual, maka kader partai dan jajajran 40 Ranting PDIP plus 2 PAC PDIP se-Jembrana kelak akan banting haluan mendukung calon yang dianggap aspiratif, apa pun kendaraan politiknya, dalam Pilkada Jembrana, 27 Desember 2010 mendatang.

Dikonfirmasi NusaBali, Putu Dwita membenarkan adanya pertemuan 40 Ranting PDIP dan 2 PAC PDIP se-Jembrana di kediamannya, Minggu kemarin. Menurut Dwita, mereka yang hadir dalam pertemuan itu semuanta tandatangan pernyataan sikap politik, yang dilayangkan DPP PDIP. “Inti pernyataan sikap politik adalah bahwa elite DPC PDIP Jembrana telah menyampaikan aspirasi yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan ke DPP PDIP,” ujar Dwita.

Kisruh di internal PDIP Jembrana ini tak terlepas dari mengambangnya rekomendasi DPP PDIP soal Cabup-Cawabup. Bayangnya, Rakercabsus PDIP Jembrana sudah digelar 7 bulan silam, tepatnya 26 Desember 2009, namun hingga kini belum ditetapkan siapa yang direkomendasi DPP PDIP sebagai Cabup-Cawabup. Ini kemudian membuka celah terjadinya berbagai maneuver, termasuk isu penjegalan IGM Kartikajaya, kandidat independen yang jawara posisi Cabup di Rakercabsus PDIP Jembrana. Bahkan, kandidat independent lainnya, Gede Patriana Krisna, yang jawara posisi Cawabup dalam Rakercabus, memilih undur diri dari mekanisme pencalonan di PDIP.

Selentingan yang berkembang, DPP PDIP belum kunjung menurunkan rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana karena masih menunggu langkah konkret Bupati Winasa. PDIP masih hitung-hitung kekuatan, sehingga menunggu kepastian Winasa, yang dianggap punya power politik kuat.

Kepada NusaBali, beberapa waktu lalu, Ketua DPD PDIP Bali Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi alias Cok Rat terang-terangan menyebut partainya masih menunggu situasi politik di Jembrana. "Ya, ‘kan lihat-lihat dulu kekuatan lawan, kita bisa sosialisasi," tegas Cok Rat kala itu.

Jika Winasa ternyata maju lagi ke Pilkada Jembrana 2010, sekalipun hanya berposisi sebagai Cawabup, pastinya dia akan jadi lawan berat bagi kandidat yang diusung PDIP. Karenanya, PDIP harus berhitung betul memilih kandidat kuat untuk diusung sebagai Cabup-Cawabup Jembrana, terutama dari figur yang ikut mekanisme Rakercabsus.

Namun, soal siapa yang akan direkomendasi sebagai Cabup-Cawabup, menurut Cok Rat, itu kewenangan DPP PDIP memutuskannya. Sebab, DPP PDIP sendiri sudah menerima hasil Rakercabsus PDIP Jembrana, yang menempatkan IGM Kartikajaya sebagai jawara posisi Cabup, disusul Putu Artha (kader PDIP), da IGK Narja (mantan birokrat).

Dikonfirmasi terpisah, Korwil Bali, NTB, NTTT DPP PDIP, I Made Urip, menyebutkan rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana masih menunggu adanya kepastian tahapan Pilkada Jembrana 2010. "Sekarang baru saja penetapan. Mungkin tidak bisa secepatnya. Kalau sudah turun (rekomendasi dari DPP PDIP), saya sampaikan ," jelas Urip. Di sisi lain, sempat menyeruak isu penjeg

alan IGM Kartikajaya. Konon, gerakan penjegalan dimotori Putu Artha, elite PDIP yang kini Wakil Bupati Jembrana. Dalam skenarionya, Putu Artha berharap bisa direkomendasi sebagai Cabup Jembrana, bertandem dengan Made Kembang Hartawan (Ketua DPC PDI) Jembrana di posisi Cawabup. Skenario ini justru dianggap sebagai rancangan Bupati Winasa. Pasalnya, Winasa berharap PDIP tidak mengusung Kartikajaya sebagai Cabup, karena dianggap lawan berat. Kalau Putu Artha atau Kembang Hartawan yang diusung PDIP, Winasa merasa dengan mudah bisa mempecundanginya di Pilkada Jembrana.

Sementara itu, salah satu dari 15 kandidat Cabup-Cawabup Jembrana yang disurvei DPP Golkar, I Gede Agus Hardiawan, memberikan keterangan mengejutkan. Hardiawan mendadak menyatakan tidak siap masuk bursa pencalonan. Hal itu disampaikan Hardiawan yang notabene Bendahara DPD II Golkar Jembrana di sela-sela kegiatan penghijauan di sekitar Bendungan Benel Desa Manistutu, Jembrana, Sabtu (17/7).

Hardiawan berdalih, dirinya ingin konsentrasi di bisnis saja, sehingga tidak siap maju ke Pilkada Jembrana 2010. Bagaimana bila ternyata DPP Golkar merekomendasi Hardiawan sebagai Cabup atau Cawabup? “Saya memilih tidak mau. Saya berikan kesempatan kepada kader Golkar lainnya,” cetus Hardiawan yang lebih dikenal sebagai pengusaha retailindo. 7 pam





2010-07-18 23:08:07 - admin