NEGARA, NusaBali
Rabu, 21 Juli 2010
DPP PDIP dijadwalkan akan rapat pleno di Jakarta, Rabu (21/7) ini, untuk memutuskan siapa yang direkomendasi sebagai Cabup-Cawabup Jembrana. Sebelum rekomendasi keluar, barisan pendukung I Gde Made Kartikajaya (figur independen jawara Rakercabsus PDIP Jembrana) justru bergolak. Mereka tidak terima adanya upaya penjegalan Kartikajaya.
Barisan pendukung Kartikajaya gerah dengan informasi soal upaya menjegal jawara posisi Cabup Rakercabsus PDIP Jembrana ini dalam rapat di DPP PDIP, Jakarta, Jumat (16/7) lalu. Alasannya, kendati non-kader, jelas-jelas Kartikajaya sebelumnya menjadi jawara Rakercabsus PDIP Jembrana, 26 Desember 2010 lalu. Menjadi aneh jika seorang jawara Rakercabsus sampai didepak PDIP dari arena Pilkada Jembrana, 27 Desember 2010 mendatang. Apalagi, Kartikajaya sudah 6 tahun berkiblat ke PDIP, kendati tidak terdaftar sebagai anggota.
Jika sampai Kartikajaya didepak dari PDIP, barisan pendukungnya mengingatkan partai besutan Megawati ini akan rugi sendiri. Apalagi, pendukung Kartikajaya kebanyakan dari kader dan struktur pengurus PDIP, seperti Ketua PAC PDIP Kecamatan Mendoyo, Ketut Wirata Winaya.
Kepada NusaBali, Ketut Wirata Winaya mengingatkan, PDIP sudah jelas-jelas memberi legitimasi kepada Kartikajaya melalui Rakercabsus setahun lalu. “Kartikajaya itu jawara posisi Cabup dalam Rakercabsus PDIP. Itu artinya, secara internal, Kartikajaya sudah menang,” ujar Wirata Winaya di Jembrana, Selasa (20/7).
Ditegaskan Wirata Winaya, Kartikajaya bukan mendapat legitimasi dari internal PDIP, namun juga didukung masyarakat. Untuk itu, elite PDIP di Jembrana diminta mengawal Kartikajaya. “Bila sampai ada elite PDIP yang mengupayakan kandidat lain untuk mendapatkan rekomendasi (Cabup Jembrana dari DPP PDIP), itu sama halnya menganulir hasil Rakercabsus,” katanya seraya membeberkan, saat ini Kartikajaya mendapat respons bagus di masyarakat, sehingga PDIP tidak perlu lagi pontang-panting menggalang dukungan jika yang bersangkutan diusung ke Pilkada Jembrana 2010.
Hal senada juga disampaikan pentolan PDIP Jembrana, Putu Dwita. Dia mengatakan, saat ini PDIP Jembrana tengah mengalami krisis figur untuk ditampilkan dalam Pilkada 2010. Dengan masuknya Kartikajaya, mestinya PDIP bersyukur. Apalagi, Kartikajaya dinilai banyak kalangan sebagai sosok yang mampu menghadapi kekuatan Gede Winasa, lawan politik PDIP yang kini Bupati Jembrana dan bakal maju lagi ke Pilkada 2010 dengan posisi Cawabup.
Dwita menegaskan, Winasa juga menganggap Kartikajaya sebagai lawan tangguh dalam Pilkada Jembrana 2010. Itu artinya, keberadaan Kartikajaya sangat diperhitungkan lawan. “Dalam kondisi seperti ini, kenapa Kartikajaya harus dijegal dengan cara-cara tidak fair?” tanya Dwita.
Menurut Dwita, salah satu upaya penjegelan terhadap Kartikajaya adalah dengan dilakukan poling oleh salah satu elite DPP PDIP. Anehnya, hasil poling dengan menggunakan sebuah lembaga survei itu tidak sesuai dengan fakta riil di lapangan (Jembrana). “Kalau mau buktikan, kita akan hadap-hadapan dalam Pilkada, apa mereka (elite DPP PDIP) yang mengada-ada atau kita di Jembrana,” tantang Dwita.
Karena itu, jika Kartikajaya sampai tidak mendapat rekomendasi dari DPP PDIP, Dwita mengaku akan terbang ke Jakarta menemui Kartikajaya---kandidat independen yang kini anggota BIN). Dwita akan minta Kartikajaya untuk tetap ambil bagian di Pilkada Jembrana 2010 dengan naik kendaraan apa pun. Pasalnya, ini sapirasi masyarakat. “Dukungan masyarakat Jembrana terhadap Kartikajaya untuk diusung jadi Cabup mencapai 56 persen. Apalagi, perjuangan kita sudah berjalan 50 persen,” terang Dwita.
Sebelumnya, DPP PDIP telah menggelar rapat khusus yang dipimpin langsung Ketua Umum Megawati Soekarnoputri untuk membahas siapa kandidat yang pas diusung sebagai Cabup-Cawabup Jembrana, di Jakarta, Jumat (16/7). Dalam rapat yang melibatkan sejumlah elite PDIP dari Bali tersebut, sebagian menghendaki kader internal Putu Artha direkomendasi sebagai Cabup Jembrana, sebagian lagi menghendaki figur independen yang jawara Rakercabsus IGM Kartikajaya. Muncul kemudian usulan mengusung formasi kader-kader atau kader-koalisi parpol sebagai Cabup-Cawabup Jembrana. Formasi ini indikasi untuk mendepak Kartikajaya dari bursa.
Namun, dari rapat DPP PDIP yang menghadirkan sejumlah elite PDIP Bali itu, muncul dua opsi pasangan Cabup-Cawabup Jembrana. Opsi pertama, PDIP mengusung paket Kartikajaya-Nyoman Suheng Kusumayasa atau Putu Artha-Suheng Kusumayasa sebagai Cabup-cawabup Jembrana. Opsi kedua, PDIP mengusung Putu Artha-kandidat dari koalisi parpol sebagai Cabup-Cawabup Jembrana.
Putu Artha merupakan kader senior PDIP yang kini menjabat Wakil Bupati Jembrana. Dalam Rakercabsus PDIP Jembrana tahun lalu, Putu Artha berada di tangga runner-up posisi Cabup, di bawah Kartikajaya. Sedangkan Suheng Kusumayasa merupakan pengurus teras DPC PDIP Jembrana yang kini anggota Fraksi PDIP DPRD Jembrana. Dalam Rakercabsus PDIP Jembrana tahun lalu, Suheng Kusumayasa terjaring di posisi Cawabup.
Sementara itu, munculnya opsi paket Kartikajaya-Suheng Kusumayasa dan opsi Putu Artha-Suheng Kusumayasa mendapat reaksi di Jembrana. Intinya, Suheng Kusumayasa menolak jadi pendamping Putu Artha. Alasannya, jika berpasangan dengan Putu Artha, akan mudah dikalahkan paket ‘Anak-Bapak’ Gede Patriana Krisna-Gede Winasa (kanmdidat jalur Independen) di Pilkada Jembrana 2010. Sebaliknya, jika ditampilkan sebagai pendamping Kartikajaya, Suheng Kusumayasa akan menerimanya dengan senang hati. Betulkah?
Dihubungu NusaBali secara terpisah di Negara, Selasa kemarin, Suheng Kusumayasa menyatakan bahwa soal siap atau tidak siap, semua ditentukan DPP PDIP. Pada saatnya nanti, semua kandidat Cabup-Cawabup dari PDIP akan dipanggil DPP PDIP sebelum rekomendasi dikeluarkan. “Tapi, wajib bagi PDIP menangkan Pilkada Jembrana, siapa pun paket yang direkomedasi. Jadi, saya tidak bisa jawab siap atau tidak siap,” tangkis Suheng Kusumayasa diplomatis.
Suheng Kusumayasa menyinggung adanya wacana formasi kader-koalisi parpol sebagai Cabup-Cawabup Jembrana. Bila formasi ini mendapat rekomendasi dari DPP PDIP, pihaknya khawatir akan menimbulkan persoalan karena ada pengingkaran proses Rakercabsus. Selain itu, juga harus kembali ke nol lagi melakukan proses komunikasi antara PDIP dengan gabungan parpol. “Kalau formasinya kader-kader atau kader-non kader, itu sudah terakomodasi di Rakercabsus PDIP,” tegas Suheng Kusumayasa.
Di sisi lain, informasi yang diperoleh NusaBali menyebutkan, DPP PDIP akan menggelar rapat pleno, Rabu ini, untuk memutuskan siapa figur yang pas diusung sebagai Cabup-Cawabup Jembrana. Konon, hasil rapat DPP PDIP Jumat lalu akan dibawa ke pleno hari ini.
Dikonfirmasi NusaBali, Korwil Bali-NTB-NTT DPP DPP PDIP, Made Urip, membenarkan agenda rapat pleno di Jakarta hari ini. Hanya saja, kata Made Urip, agenda yang dibahas hari ini seputar persiapan Rakornas PDIP (4-6 Agustus 2010). Namun, dalam rapat pleno hari ini juga dibahas seputar Pilkada. “Tapi, belum spesifik masalah Pilkada Jembrana,”terang politisi PDIP asal Tabanan ini.
Ketika ditanya kapan kira-kira rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana diturunkan DPP PDIP, Urip hanya mengatakan secepatnya. Hanya saja, anggota Fraksi PDIP DPR ini tidak merinci kapan hari H-nya. Pun, Urip mengelak soal siapa yang akan direkomendasi maju ke Pilkada Jembrana.
Sementara, tidak semua struktur pengurus PDIP di Jembrana ingn mengusung kandidat Cabup-Cawabup hasil Rakercabsus. Pasalnya, ada pengurus partai yang justru berkiblat ke Winasa, seperti Wakil Ketua PAC PDIP Kecamatan Mendoyo, IB Dana Manuaba.
Dana Manuaba menyebutkan, belakangan banyak pihak yang menghujat Winasa. Dari situ, Dana Manuaba menangkap nuansa politik yang kental. Apalagi, Winasa akan ambil bagian dalam Pilkada Jembrana, sebagai Cawabup pendamping putra sulungnya, Patriana Krisna. Bagi Dana Manuaba, paket ‘Anak-Bapak’ ini merupakan Cabup-Cawabup damabaan masyarakat Jembrana.
“Masyarakat Jembrana adalah masyarakat pintar memilih pemimpin, bukan melihat partainya tapi kerja nyata untuk rakyat kecil, ya seperti Prof Winasa,” ujar Dana Manuaba kepada NusaBali, Selasa kemarin. Dana Manuaba mengakui dirinya sebagai kader PDIP memiliki pandangan berbeda dengan rekan-rekan separtai. Bagi Dana Manuaba, walau bagamanapun Winasa adalah Bupati Jembrana yang berkompeten dalam hal monitoring kelangsungan Pilkada. “Tapi kok dibilang menghambat? Yang tahu kondisi Jembrana ‘kan beliau (Winasa),” belanya. 7 pam |