|« kembali| ||

Gantian Pendukung Artha Bergolak





NEGARA, NusaBali
Kamis, 22 Juli 2010


Suhu politik di internal PDIP Jembrana jelang Pilkada, 27 Desember 2010 mendatang, semakin mendidih. Setelah pendukung IGM Kartikajaya (jawara posisi Cabup di Rakercabsus PDIP Jembrana) bergolak, kini giliran pendukung Putu Artha (kader PDIP pemegang runner-up posisi Cabup di Rakercabsus) yang gonjang-ganjing. Mereka bergolak karena curiga ada pihak tertentu ingin menyingkirkan Putu Artha dari bursa Cabup di PDIP.

Para pendukung Putu Artha teriak bahwa kader senior yang masih menjabat Wakil Bupati Jembrana ini lebih pas diusung sebagai Cabup dari PDIP di Pilkada 2010. Kalau Putu Artha diposisinya sebagai Cawabup ke Pilkada Jembrana nanti, dianggap aneh karena sebelumnya sudah berpengalaman menjadi wakil bupati pendamping Gede Winasa.

Kader elite PDIP yang berada di barisan pendukung setia Putu Artha, antara lain, Ketua Dewan Pertimbangan Cabang (Depercab) PDIP Jembrana Wayan Mawa dan Ketua PAC PDIP Kecamatan Melaya, Made Sukadayana. Kedua kader senior ini menggelar jumpa pers di Negara, Rabu (21/7), khusus untuk menyuarakan dukungannya terhadap Putu Artha.

Made Sukadayana tidak memungkiri kalau kalangan PDIP, khususnya di Kecamatan Melaya, kini terbelah antara kelompok yang mendukung Putu Artha dan kelompok pendukung IGM Kartikajaya (figur independen yang juga anggota Badan Intelijen Negara/BIN).

Hanya saja, kata Sukadayana, dari porsentase dukungan di wilayah Melaya, dominan mengarah ke Putu Artha. “Pengurus PDIP di Melaya yang pro Putu Artha bahkan mencapai 95 persen, sedangkan yang pro Kartikajaya hanya kisaran 5 persen,” terang Sukadayana.

Dominasi dukungan kepada Putu Artha ini, kata Sukadayana, karena yang bersangkutan sudah berpengalaman selama 6 tahun di birokrasi sebagai wakil bupati Jembrana. Sehingga, sudah saatnya Putu Artha yang diproyeksikan menjadi bupati Jembrana melalui tarung Pilkada 2010. “Putu Artha ibarat kernet yang sudah memahami fungsi sopir,” tandas Sukadayana.

Sukadayana menambahkan, soal ada rekan-rekannya di PDIP yang mengklaim dukungan Kartikajaya sangat tinggi, itu hanyalah sebuah prediksi. Lain halnya dengan di Kecamatan Melaya, dukungan untuk Putu Artha merupakan sebuah realitas. Kalau masih sebatas prediksi, kata dia, belum bisa dijadikan acuan untuk tiket rekomendasi Cabup dari DPP PDIP.

Bagaimana jika ternyata yang mendapat rekomendasi Cabup Jembrana dari DPP PDIP justru Kartikajaya? Menurut Sukadayana, pihaknya tetap akan mendukung pasangan Cabup-Cawabup yang mendapat rekomendasi dari DPP PDIP. Artinya, dia akan tunduk dengan keputusan partai.

Dia mencontoh saat Pilgub Bali 2008, ketika PDIP Jembrana sangat berharap DPP PDIP menjatuhkan rekomendasi Cagub kepada Gede Winasa, namun ternyata rekomendasi diberikan kepada figur independent Made Mangku Pastika. Kendati harapannya untuk mengusung Winasa tidak terwujud, menurut Sukadayana, kalanyan PDIP Jembrana tetap mendukung Pastika selaku Cagub yang direkomendasi DPP PDIP. “Karena, kalau rekomendasi tidak indahkan, akan kena sanksi dari partai,” kenangnya.

Hanya saja, sampai detik ini, Sukadayana tetap berharap Putu Artha yang dapat rekomendasi sebagai Cabup Jembrana dari DPP PDIP, karena memang lebih pantas dibanding figur mana pun. Hhingga saat ini, pihaknya masih menunggu rekomendasi dari DPP PDIP.

Pada kesempatan yang sama, Wayan Mawa menegaskan formasi paket Cabup-Cawabup Jembrana yang diusung PDIP seharusnya kader-kader. Maka, pilihannya adalah paket Putu Artha-Made Kembang Hartawan. Alasannya, dengan formasi kader-kader, maka ke depan hubungan antara bupati dan wakil bupati akan harmonis dan selalu ada dalam pengawasan partai. Jika formasinya kader-non kader atau non kader-kader, Wayan Mawa memprediksi akan tercipta suasana kurang harmonis. Terlebih, ketika memasang non kader, tidak akan ada ikatan moralitas yang efektif. Ini sudah banyak contohnya di sejumlah daerah. Ketika ditanya apakah ketika Putu Artha dipasang sebagai Cabup akan mampu minimal mengimbangi kekuatan paket ‘Anak-Bapak’ Gede Patriana Krisna-Gede Winasa (yang maju ke Pilkada Jembrana 2010 melalui jalur Independen), menurut Mawa, sangat mampu.

Indikatornya, antara lain, saat ini masyarakat Jembrana sudah jenuh dengan kepemimpinan Winasa. Apalagi, ada sejumlah pihak yang dikorbankan oleh Winasa seperti dalam kasus dugaan korupsi pengadaan mesin pabrik kompis yang kini tengah ditangani pengadilan.

Soal hasil Rakercabsus PDIP Jembrana tahun lalu yang menempatkan Kartikajaya sebagai jawara posisi Cabup dan Artha sebagai runner up posisi Cabup, menurut Mawa, Rakercabsus PDIP tetap dijadikan pertimbangan. Sedangkan pemutus terakhir ada di tangan DPP PDIP. Mawa mengatakan, pihaknya merasa terganggu dengan adanya sikap politik 40 Ranting PDIP se-Jembrana plus salah satu pentolan DPC PDIP Jembrana, Putu Dwita, di Kelurahan Dauhwaru, Negara, Minggu (18/7) lalu. Padahal, jelas-jelas semua PAC PDIP menyatakan tunduk kepada keputusan partai soal rekomendasi pasangan Cabup-Cawabup Jembrana. Untuk itulah, Mawa mempersilakan bila sampai ada petugas partai yang ingin keluar dari PDIP. “Saya imbau kepada kader dan petugas partai merapatkan barisan untuk menangkan Pilkada Jembrana 2010 dan jaga suasana kondusif,” pinta Ketua Depercab PDIP Jembrana ini.

Mawa juga mengingatkan tidak ada alasan PDIP untuk dipecah oleh kekuatan mana pun. Tidak ada alasan bagi tokoh-tokoh partai keluar dari rel. Apalagi, ada kabar bahwa rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana Jembrana baru akan dikeluar DPP PDIP akhir bulan Juli ini.

Sebelumnya, barisan pendukung Kartikajaya juga gerah dengan informasi soal upaya menjegal jawara posisi Cabup Rakercabsus PDIP Jembrana ini dalam rapat di DPP PDIP, Jakarta, Jumat (16/7) lalu. Alasannya, kendati non-kader, jelas-jelas Kartikajaya menjadi jawara Rakercabsus PDIP Jembrana, 26 Desember 2010. Menjadi aneh jika seorang jawara Rakercabsus sampai didepak PDIP dari arena Pilkada Jembrana, 27 Desember 2010 mendatang. Apalagi, Kartikajaya sudah 6 tahun berkiblat ke PDIP, kendati tidak terdaftar sebagai anggota.

Jika sampai Kartikajaya didepak dari PDIP, barisan pendukungnya mengingatkan partai besutan Megawati ini akan rugi sendiri. Apalagi, pendukung Kartikajaya kebanyakan dari kader dan struktur pengurus PDIP, seperti Ketua PAC PDIP Kecamatan Mendoyo, Ketut Wirata Winaya dan Putu Dwita.

Dia mengatakan, saat ini PDIP Jembrana tengah mengalami krisis figur untuk ditampilkan dalam Pilkada 2010. Dengan masuknya Kartikajaya, mestinya PDIP bersyukur. Apalagi, Kartikajaya dinilai banyak kalangan sebagai sosok yang mampu menghadapi kekuatan Gede Winasa, lawan politik PDIP yang kini Bupati Jembrana dan bakal maju lagi ke Pilkada 2010 dengan posisi Cawabup. Jika Kartikajaya sampai tidak mendapat rekomendasi dari DPP PDIP, Dwita akan minta Kartikajaya untuk tetap maju Pilkada Jembrana 2010 dengan naik kendaraan apa pun, dengan membawa gerbong dukungannya.

Pergolakan kubu pendukung Kartikajaya dan Putu Artha ini tak terlepas dari digelarnya rapat di DPP PDIP yang dipimpin langsung Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, Jumat lalu. Dalam rapat yang melibatkan sejumlah elite PDIP dari Bali tersebut, sebagian menghendaki kader internal Putu Artha direkomendasi sebagai Cabup Jembrana, sebagian lagi menghendaki figur independen yang jawara Rakercabsus IGM Kartikajaya.

Muncul kemudian dua opsi pasangan Cabup-Cawabup Jembrana. Opsi pertama, PDIP mengusung paket Kartikajaya-Nyoman Suheng Kusumayasa atau Putu Artha-Suheng Kusumayasa sebagai Cabup-cawabup Jembrana. Opsi kedua, PDIP mengusung Putu Artha-kandidat dari koalisi parpol sebagai Cabup-Cawabup Jembrana. Dari situ, baik kubu Kartikajaya maupun Putu Artha merasa ada pihak yang berupaya mendepak mereka dari bursa.

Bertolak dari pergolakan kubu Kartikajaya dan kubu Putu Artha, PDIP Jembrana sebetulnya boleh dibilang terbelah tiga. Pasalnya, ada satu kubu lagi yang justru cenderung mendukung Bupati Winasa. Kubu ini dikomandani Wakil Ketua PAC PDIP Kecamatan Mendoyo, IB Dana Manuaba.

Sementara itu, Sekretaris DPC PDIP Jembrana, Ketut Sugiasa, mengatakan pihaknya sudah mengetahui statemen Dana Manuaba yang mendukung Winasa. Hanya saja, Sugiasa memaknai statemen ini baru berupa wacana. “Kita belum lihat yang sebenarnya. Bila pernyataan pribadi, itu baru wacana, sah-sah saja dia (Dana Manuaba) bicara begitu,” ujar Sugiasa kepada NusaBali di Negara, Rabu kemarin.

Sugiasa sendiri meminta semua kader dan pengurus PDIP di Jembrana untuk mengamankan siapa pun paket Cabup-Cawabup yang direkomendasi DPP PDIP. Untuk itu, DPC PDIP Jembrana akan intens melakukan koordinasi dengan barisan pengurus di bawahnya. “Terpenting saat ini, bagaimana PDIP Jembrana mengawal suasana politik yang kondusif. Begitu rekomendasi keluar, mau tidak mau, suka tidak suka, harus diamankan semua jajaran,” katanya.

Semula, sempat muncul informasi kalau DPP PDIP akan menggelar rapat pleno di Jakarta, Rabu kemarin, untuk memutuskan siapa yang direkomendasi sebagai Cabup-Cawabup Jembrana. Namun, informasi terakhir yang diperoleh NusaBali, DPP PDIP baru akan menggelar repat pleno membahas Cabup-Cawabup Jembrana, Jumat (23/7) besok. 7 pam





2010-07-21 23:00:15 - admin