|« kembali| ||

Paket Anak-Bapak Pecah





NEGARA, NusaBali
Jumat, 23 Juli 2010


Isu perpecahan tingkahi paket ‘Anak-Bapak’ Gede Patriana Krisna-Gede Winasa, kandidat Cabup-Cawabup Jembrana dari jalur Independen. Gara-gara masuknya sang bapak, Gede Winasa, tim bentukan Patriana Krisna kini tercerai berai. Sejumlah anggota tim pemenangan memilih kabur, karena khawatir masuknya Winasa justru menjatuhkan citra Patriana Krisna.

Sebelum paket ‘Anak-Bapak ini dideklarasikan Winasa (yang kini masih menjabat Bupati Jembrana) sebulan lalu, sebetulnya telah terbentuk tim pemenangan yang khusus mengawal Patriana Krisna. Tim inilah yang memanage pelbagai kepentingan Patriana Krisna, mulai dari pencitraan hingga sosialisasi, seperti turun ke tengah-tengah masyarakat, serta menyusun strategi yang harus dimainkan. Informasi yang dihimpun NusaBali di Negara, Kamis (22/7), awalnya tim ini berharap Patriana Krisna bisa tampil sebagai Cabup Jembrana, bertandem dengan figur dari unsur parpol di posisi Cawabup untuk maju ke Pilkada, 27 Desember 2010 mendatang. Namun, di tengah jalan, tiba-tiba Winasa (yang notabene ayah Patriana Krisna) ingin masuk sebagai Cawabup pendamping putra sulungnya. Masuknya Winasa ini kontan ditentang sejumlah elemen dalam tim Patriana Krisna, dengan pelbagai alasan. Salah satu alasannya, masuknya Winasa sebagai tandem Patriana Krisna, dikhawatirkan akan memberkan citra kurang baik bagi figur muda ini. Ujung-ujungnya, Patriana Krisna bakal menelan kekalahan dalam tarung Pilkada Jembrana 2010.

Kendati ditetang tim Patriana Krisna, Winasa tetap saja memaksakan diri untuk bertandem dengan putranya. Karena Winasa ngotot, sejumlah anggota Tim Patriana Krisna memilih hengkang. Mereka tidak mau ambil bagian lagi sebagai tim pemenangan paket ‘Anak-Bapak’ Patriana Krisna-Winasa.

Menyadari kondisi runyam ini, konon Winasa membuat semacam poling yang intinya untuk mencari tahu respons dari masyarakat: apakah dirinya dikehendaki masyarakat Jembrana tampil sebagai penguasa di Gumi Makepung atau tidak. “Selain itu, untuk mengetahui respons masyarakat, Pak Winasa belakangan juga rajin turun ke lapangan,” ujar sumber terpercaya yang dekat dengan lingkaran Winasa kepada NusaBali.

Sumber yang enggan namanya dikorankan ini mengatakan, jika akhirnya Winasa mendapat apresiasi atau respons positif, dalam artian masih dikehendaki masyarakat Jembrana, maka ini akan dijadikan tameng argumentasi kepada tim Patriana Krisna yang kecewa. “Ketika respons masyarakat bagus, tidak ada alasan bagi tim untuk menolak Winasa sebagai tandem Patriana Krisna,” katanya.

Sementara, Winasa yang dikonfirmasi NusaBali masalah ini di Lobi Lantai I Kantor Bupati Jembrana, mengaku dirinya baru menyadari ada penyusup di dalam timnya. Penyusup tersebut muncul untuk memecahbelah paket Anak-Bapak, sehingga Winasa tidak bisa tampil ke Pilkada Jembrana 2010. “Itu selundupan untuk memecah Pak Winasa, sekarang baru saya tahu,” tegas Winasa.

Terkait gerakannya yang belakangan rajin turun ke masyarakat, menurut Winasa, hal itu dilakukan untuk minta pendapat yang sejujurnya tentang prestasi selama 10 tahun menjadi bupati. Winasa menegaskan, pendapat yang dimintakan kepada masyarakat ini bukanlah kampanye. Pasalya, 10 tahun menjabat bupati, sudah barang tentu masyarakat Jembrana tahu persis apa yang telah diperbuat seorang Winasa. “Saya 10 tahun jadi bupati, masyarakat sudah tahu bagaimana Pak Winasa mulai dari jalan krokol hingga sekarang jadi hotmix,” ujar Winasa. Untuk itulah, Winasa minta dengan fakta yang ada saat ini, jangan sampai masyarakat diprovokasi oleh hal-hal yang tidak realistis. Apalagi, sampai memprovokasi rencana dirinya maju sebagai Cawabup pendamping Patriana Krisna di Pilkada. “Apa jadi Wabup salah, apa jadi wakil bupati dosa?” tanya Winasa.

Winasa sendiri sudah tak memungkinkan lagi mengincar posisi Cabup ke Pilkada 2010, karena sudah dua kali periode menjadi Bupati Jembrana. Winasa kemudian memutuskan maju ke Pilkada Jembrana 2010 dengan posisi Cawabup, mendampingi Patriana Krisna.

Keputusan Winasa ini, tak pelak, bikin gelapagan lawan-lawan politiknya. Bahkan, muncul wacana koalisi tiga parpol besar untuk menjegal Winasa bersama-sama di Pilkada Jembrana 2010 nanti. Tiga parpol besar di Jembrana yang menggagas koalisi itu masing-masing PDIP, Demokrat, dan Jembrana. Pentolan tiga parpol besar ini sudah sempat bertemu beberapa waktu lalu untuk membahas koalisi. Bahkan, DPP PDIP kabarnya sampai menunda-nunda turunnya rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana, karena masih menunggu langkah konret Winasa---yang dianggap masih memiliki power politik sangat kuat di Jembrana. Sementara itu, suhu politik di internal PDIP Jembrana mulai agar reda. Kamis kemarin, tidak ada lagi gejolak yang muncul ke permukaan, baik dari kubu IGM Kartikajaya (kandidat non-kader jawara posisi Cawabup di Rakercabsus PDIP Jembrana) maupun Putu Artha (kader elite PDIP yang runner up posisi Cabup hasil Rakercabsus).

Kendati suasana sudah mereda, Putu Artha kemarin coba memberikan tanggapan atas rekomendasi pasangan Cabup-Cawabup Jembrana yang hingga kini belum dikeluarkan DPP PDIP. Putu Artha menyatakan, bila mengacu pada Rakercabsus PDIP Jembrana, 26 Desember 2009 lalu, terlalu lama proses keluarnya tiket rekomendasi dari DPP PDIP.

Andaikan paket Cabup-Cawabup diturunkan lebih awal, kata Putu Artha, tentu bagus untuk mempercepat proses sosialisasi calon yang diusung PDIP ke masyarakat. “Namun, saya memperkirakan belum turunnya rekomendasi ini merupakan strategi dari DPP PDIP,” ujar Putu Artha yang kini masih menjabat Wakil Bupati Jembrana.

Strategi apa? Menurut Putu Artha, bisa saja DPP PDIP masih melihat lawan politik terkait sosok akan diusungnya ke Pilkada Jembrana 2010. Ketika sudah tahu siapa sosok lawan politik nanti, DPP PDIP memiliki gambaran siapa pula sosok yang pas ditampilkan buat memenangi tarung Pilkada Jembrana. “Ibarat bulutangkis, jika menghadapi lawan kidal, formulasinya harus khusus,” katanya. Ditambahkan Putu Artha, soal formasi pasangan Cabup-Cawabup Jembrana, kewenangan sepenuhnya ada di tangan DPP PDIP. “Apakah yang akan diturunkan nanti hasil Rakercabsus atau formasi kader-koalisi parpol, itu pusat (DPP PDIP) yang menentukan,” ujar Putu Artha yang ditemui NusaBali usai rapat paripurna di Gedung DPRD Jembrana, Kamis kemarin.

Ketika ditanya mana formasi yang ideal mendapat rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana dari DPP PDIP, apakah paket kader-kader, kader-non kader, atau kader-koalisi parpol, Putu Artha mengatakan kalau dirinya sebagai kandidat, tentunya berharap calon diambil dari hasil Rakercabsus. Selaku Ketua Bappilu DPC PDIP Jembrana, Putu Artha berjanji suap mendukung penuh siapa pun paket yang mendapat rekomendasi DPP PDIP.

Ditemui terpisah, Ketua DPC PDIP Jembrana Made Kembang Hartawan memperkirakan DPP PDIP akan menggelontorkan tiket rekomendasi Cabup-Cawabup, akhir Juli 2010 ini. Belum kunjung turunnya rekomendasi, menurut Kembang, karena DPP PDIP masih melihat situasi di lapangan.

Nah, untuk mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan, DPP PDIP pun telah membentuk tim khusus. Tidak satu pun dari kader atau pengurus PDIP di Jembrana yang mengetahui kapan dan bagaimana tim khusus ini bekerja dan turun ke Jembrana.

Ditegaskan Kembang, rekomendasi Cabup-Cawabup Jembrana dari DPP PDIP tidak serta merta mengacu pada masukan yang diberikan pengurus DPC PDIP Jembrana, DPD PDIP Bali, dan elite PDIP asal Bali ke dipanggil rapat ke Jakarta pekan lalu. “Masukan itu disinkronkan dengan kajian tim khusus yang terjun ke lapangan,” terang Kembang yang juga Ketua DPRD Jembrana. 7 pam





2010-07-22 22:16:03 - admin