MANGUPURA, NusaBali
Senin, 26 Juli 2010
Pihak pengelola Lembaga Pendidikan Latihan Pariwisata (PLP) Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung berjanji akan mengurus lima mahasiswi yang diduga jadi korban human trafficking (perdagangan manusia) di Malaysia. Pihak PLP juga berjanji akan menanggung seluruh biaya pemulangan mereka.
Menurut Nyoman Sumerjaya, dari Pengelola PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani, Minggu (25/7), mengakui lima mahasiswi yang diduga jadi korban human trafficking itu merupakan anak didiknya. Pihak PLP masih mengurus proses pemulangan lima mahasiswinya dari Malaysia. Bahkan, mereka dijadwalkan sudah akan tiba di Bali, Senin (26/7) ini.
“Memang benar kelima mahasiswi itu dari lembaga sini (PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani). Sudah kami lakukan pemantauan langsung, baik di sana (Malaysia) maupun kesiapan di sini (PLP Mengwitani), termasuk dengan keluarga mereka. Semua sudah kami urus termasuk tiket dan sebagainya,” terang Sumerjaya saat ditemui NusaBal, di Kantor PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani, Jalan Raya Mengwitani 389 Mengwi kemarin.
Hanya saja, Sumerjaya masih enggan membeberkan identitas lima mahasiswi yang didiga jadi korban human trafficking di Malaysia tersebut. Alasannya, pihaknya masih menunggu kelima mahasiswi tersebut tiba di Bali. Yang pasti, dari mereka itu, empat mahasiswi di antaranya berasal dari Badung, sementara satunya lagi asal Tabanan.
Ditegaskan Sumerjaya, pihak PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani akan menanggung seluruh biaya dari proses pemulangan lima mahasiswi tersebut. Menurut Sumerjaya, memang pihak PLP sendiri yang meminta kelima peserta didiknya itu untuk dipulangkan ke Bali.
“Kami nanti akan mengklarifikasi terkait permasalahan ini, sehingga jelas semuanya. Kami juga akan meminta kejelasan langsung dari kelima mahasiswi tersebut,” imbuh Sumerjaya.
Sumerjaya juga memaparkan proses perekrutan kelima mahasiswi tersebut menjadi tenaga pariwisata ke perusahaan Pangkor Laut. Proses rekrutmennya melalui beberapa tahapan, salah satunya calon tenaga kerja harus menunggu dua hingga tiga bulan. Saat menunggu itu, kelima mahasiswi menginginkan untuk langsung mendapatkan pekerjaan apa pun, termasuk jadi buruh pabrik di Malaysia.
Waktu itu, kata Sumerjaya, ada pabrik di Malaysia yang menawarkan lowongan. Lalu, kelima mahasiswi menyetujuinya untuk mengisi lowongan di pabrik tersebut. “Daripada nganggur dua-tiga bulan, mereka (lima mahasiswi) ingin langsung kerja saja. Jadi, ini keinginan mereka sendiri, kita tidak pernah memaksa,” tandas Sumerjaya.
Karena belum pernah punya pengalaman bekerja, maka setelah dua minggu bekerja di Malaysia, kelima mahasiswi tersebut tidak krasan. “Hingga akhirnya mereka memutuskan berhenti kerja di pabrik di Malaysia tersebut. Baru dua minggu bekerja, mereka sudah telepon ke keluarganya maupun ke kami, minta agar dipulangkan dari Malaysia,” ungkap Sumerjaya.
Sumerjaya juga membantah pihaknya pernah meminta kepada peserta pelatihan uang sebesar Rp 15 juta per orang. “Tidak benar kami meminta uang seperti itu. Selama ini, tidak ada permasalahan seperti ini. Sudah lama kami membuka lembaga ini (PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani),” jelasnya.
Sementara itu, pihak Kecamatan Mengwi hingga Minggu kemarin belum memperoleh keterangan resmi mengenai permasalahan lima mahasiswi PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani yang diduga jadi korban human trafficking di Malaysia.
Saat dikonfirmasi NusaBali, Camat Mengwi I Nyoman Suendi mengaku belum bisa memberikan keterangan terkait permasalahan ini. Namun demikian, Nyoman Suendi berjanji pihaknya segera melakukan koordinasi dalam penyelesaian permasalahan ini. “Jelas kami koordinasikan masalah ini terlebih dulu,” ujar Nyoman Suendi.
Hal senada juga dilontarkan Kabid Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Badung, I Ketut Kontiyasa. Menurut Kontiyasa, pihaknya sama sekali belum menerima laporan soal permasalahan lima mahasiswi (PLP Piramid Cruise Ship & Hotel Training Center Mengwitani yang diduga jadi korban human trafficking tersebut.
Sebelumnya diberitakan, lima mahasiswi asal Bali dikabarkan menjadi korban human trafficking di Malaysia. Mereka ditipu dengan pekerjaan yang tidak sesuai yang dijanjikan. Bahkan selama dua bulan awal, mereka tidak digaji, hingga akhirnya diselamatkan di KBRI Kuala Lumpur.
Awalnya, mereka dijanjikan bekerj di sektor perhotelan sesuai skilnya. Namun kenyataan, kelima mahasiswi ini dijadikan buruh di salah satu pabrik elektronik di Pulau Pinang, Malaysia. "Kami dijanjikan akan dipekerjakan di hotel Ritz Carlton dan perusahaan pariwisata Pangkor Laut. Tapi ternyata dijadikan buruh di pabrik Sony, Pulau Pinang," tutur salah satu dari mereka, yang disebutkan hanya berinisial Ni Nyoman.
Pada dua bulan awal bekerja sejak April 2010, kelima mahasiswi asal Bali ini tidak digaji. “Bulan April dan Mei kami tak diberi gaji, baru Juni terima gaji 700 ringgit (setara dengan Rp 1.988.000," papar Nyoman.
Dikisahkan Nyoman, mereka awalnya dihubungkan dengan agen perseorangan, Samuel. Untuk keberangkatan ke Malaysia, Samuel meminta kelima mahasiswi ini membayar Rp 10,5 juta per orang. Itu sudah termasuk biaya pendidikan, tiket pesawat, airport tax, dan lainnya.
Sementara itu, Atase Tenaga Kerja KBRI Kuala Lumpur, Agus Trianto, mengatakan kasus yang menimpa lima mahasiswi dari Bali ini sudah masuk kategori perdagangan manusia. "Jika tertangkap, Samuel (agen perseorangan) dapat dikenakan UU Anti-Perdagangan Manusia," katanya dikutip Antara secara terpisah di Kuala Lumpur. 7 zu |