nusabali

Mayat Silke Braun Dalam Kondisi Terikat Tali di Leher, Tangan, dan Kaki

  • www.nusabali.com-mayat-silke-braun-dalam-kondisi-terikat-tali-di-leher-tangan-dan-kaki

Korban Silke Braun diketahui tinggal di rumah kontrakan milik warga di Banjar Kuta Bali, Desa Tajen, Kecamatan Penebel, Tabanan sejak Februari 2016

Menghilang Lima Hari, Bule Perempuan Jerman Ditemukan Tewas Mengambang di Tukad Yeh Ho


TABANAN, NusaBali
Seorang bule perempuan asal Jerman, Silke Braun, 55, ditemukan tewas mengambang dalam kondisi leher, tangan, dan kaki terikat di Tukad Yeh Ho kawasan Desa Tegallinggah, Kecamatan Penebel, Tabanan, Kamis (26/1) siang. Sebelum ditemukan tewas mengenaskan, bule Jerman yang tinggal di Banjar Kuta Bali, Desa Tajen, Kecamatan Penebel ini sempat dilaporkan hilang selama 5 hari sejak Sabtu (21/1) lalu.

Mayat korban Silke Braun ditemukan mengambang di aliran Tukad Yeh Ho perbatasan Banjar Tatag, Desa Tegallinggah (Kecamatan Penebel) dan Banjar Bendul, Desa Jegu (Kecamatan Penebel), Kamis siang pukul 11.00 Wita. Muncul dugaan korban tewas dibunuh, karena leher, tangan, dan kakinya dalam kondisi diikat menggunakan kawat dan tali sampi warna biru. Saat ditemukan, kondisi mayat sudah bengkak.

Adalah Ni Made Nuasih, 47, seorang petani setempat yang pertama kali melihat mayat bule ini mengambang di Tukad Yeh Ho, Kamis siang. Ketika itu, saksi Made Nuasih hendak menyeberang sungai untuk mencari bambu buat pagar bibit padi. Nah, ketika asyik memilih bambu, dia terkejut melihat kaki manusia teronggok dalam kodisi terikat tali, sekitar 3 meter dari posisinyanya berdiri.

Seteleh diamati seksama, ternyata itu mayat manusia berkulit putih yang dikerumuni lalat. Saksi Made Nuasih tambah terkejut melihat leher korban juga terikat tali. Made Nuasih pun langsung berteriak memanggil suaminya, I Wayan Sudirta, 57, yang berada di sawah berjarak 10 meter dari sungai. "Saya berteriak, Pan Iluh, Pan Iluh (panggilan untuk Wayan Sudirta, Red) cepat ke sini, ada mayat," cerita perempuan asal Desa Bendul, Kecamatan Penebel ini.

Begitu tahu ada mayat manusia dalam kondisi terikat mengambang di Tukad Yeh Ho, Wayan Sudirta pun langsung menghubungi adiknya yang kebetulan menjadi petugas BPBD Tabanan. Tak lama berselang, Tim TRC BPBD Tabanan terjun ke lokasi TKP bersama jajaran Polres Tabanan, Polsek Penebel, dan Koramil Penebel untuk identifikasi dan mengevakuasi mayat korban.

Dari hasil pemeriksaan, mayat bule Jerman ini dalam kondisi terikat tanpa mengenakan celana, namun masih memakai jaket warna coklat dengan banyak saku, serta kenakan kaos hitam, bra warna hitam, dan syal yang masih tergantung di lehernya. Selain dalam kondisi terikat di leher, tengan, dan kaki, ditemukan pula luka di kepala kiri dan luka lebam di sekujur tubuh korban.

Proses evakuasi korban berjalan dramatis. Apalagi, warga tidak mengizinkan areal persawahan mereka dijadikan jalur evakuasi mayat bule Jerman ini. Akhirnya, mayat Braun ditarik menggunakan tali sepanjang 18 meter yang masih terikat di lehernya. Kamis siang pukul 13.00 Wita, mayat korban dinaikkan ke mobil ambulans untuk dibawa ke Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah, Denpasar.

Kapolres Tabanan, AKBP Marsdianto, menyatakan pihaknya belum berani menduga-duga terkait penyebab kematian bule Jerman ini. "Kita belum berani berkomentar banyak, kasus ini masih akan terus diselidiki," ujar Kapolres Marsdianto yang kemarin ikut terjun ke lokasi TKP di Tukad Yeh Ho.

Sementara, Babinsa Penebel, Serda I Gede Made Sumerta Jaya, mengatakan bule Jerman bernama Silke Braun ini tinggal di Banjar Kuta Bali, Desa Tajen, Kecamatan Penebel Tabanan sejak setahun lalu. Korban diketahui menghilang sejak 21 Januari 2017 lalu dan sempat dilaporkan hilang ke Kantor Desa Tajen, Senin (23/1).

Dalam laporan pihak keluarga, korban Silke Braun menghilang setelah pulang dari Kafe Oup Down di Jalan Pahlawan Tabanan. "Katanya korban hilang sejak hari Sabtu dan baru dilaporkan hari Senin," ujar Serda Sumerta Jaya.

Sedangkan Perbekel Desa Tajen, I Gusti Putu Sumertayasa, mengakui menerima laporan hilangnya korban di Kantor Desa, Senin lalu. Dalam laporan itu, bule Jerman bernama Braun hilang sejak Sabtu, 21 Januari 2017. Menurut Sumertayasa, korban tinggal di rumah kontarakan di Banjar Kuta Bali, Desa Tajen sejak Februari 2016, berama lelaki yang bukan suaminya berasal dari Jerman pula.

Hingga kini, motif pembunuhan korban masih misterius. Menurut sumber di lapangan, korban sempat memperkerjakan orang untuk memperbaiki rumah di Banjar Kuta Bali, Desa Tajen. Namun, baru beberapa hari diperbaiki, atap rumahnya  bocor, sehingga korban protes dan mencari buruh yang mengerjakannya.

Sementara, Kapolres Tabanan AKBP Marsdianto terjun langsung memimpin olah TKP di rumah kontrakan bule Jerman, Braun, di Banjar Kuta Bali, Desa Tajen, tadi malam. Sebelum olah TKP, tampak rumah kontrakan milik keluarga I Made Putra Arjana alias Pak Dika yang ditempati bule Jerman itu sudah dipasangi garis polisi.

Pantauan NusaBali, polisi datang ke lokasi untuk olah TKP tadi malam sekitar pukul 19.00 Wita. Kapolres AKBP Marsdianto didampingi Kasat Reskrim Polres Tabanan AKP Yana Jaya Widya SIK dan Kapolsek Penebel, AKP Wayan Dastra. Saat olah TKP, polisi juga periksa motor Mio DK 8523 HI yang sebelumnya dibawa korban pergi ke Kota Tabanan.

Sementara itu, petugas medis di Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah telah melakukan pemeriksaan terhadap jenazah Silke Braun, Kamis sore pukul 16.30 Wita. Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah, dr Dudut Rustyadi, menyatakan dari hasil pemeriksaan, korban mengalami luka robek di sejumlah bagian tubuhnya, seperti kepala belakang, dahi, dan puncak kepala. "Terdapat juga luka lecet melingkari leher penuh. Juga luka lecet di pergelangan tangan, paha, dan pergelangan kaki," ujar dr Dudut saat dikonfirmasi NusaBali, tadi malam. * d,k21,in

Komentar