nusabali

Jadi Markas Bala Pasukan Niskala

  • www.nusabali.com-jadi-markas-bala-pasukan-niskala

Jenis banten dan rarapan ini juga menjadi sarana bagi warga untuk memohon tamba atau sarana kesembuhan, keselamatan dan lainnya.

Palinggih Ratu Nyoman Sakti di Pekandelan, Klungkung


SEMARAPURA, NusaBali
Palinggih Ratu Nyoman Sakti ada di areal pekarangan Puri Semara Negara, Banjar Pekandelan, Kelurahan Semarapura Klod, Kecamatan Klungkung, Klungkung. Tepatnya, selatan Mapolres Klungkung. Warg sekitar meyakini Palingih ini sarat aura mistis.

Di antaranya, ada bala pasukan niskala. Konon pasukan ini diyakini kerap membantu polisi di jajaran Polres Klungkung untuk mengungkap berbagai kasus.

Palinggih Ratu Nyoman Sakti dibangun sekitar tahun 1942, oleh (alm) Ida I Dewa Agung Oka Geg, Raja Klungkung sekitar 1929. Ketika itu Ida I Dewa Agung yang tinggal di Puri Agung Klungkung, memutuskan pindah ke Puri Semara Negara, Banjar Pekandelan. Kemudian beliau mulai membangun. Namun, hanya beberapa tahun tinggal di tempat itu. Karena beliau  kerap menjumpai peristiwa-peristiwa aneh. Tak terkecuali, beliau merasakan sakit pada bekas luka tembak di kakinya, dan sebagainya.

Akhirnya, ketika Ida I Dewa Agung ngecel siap (mengelu-elus ayam) di purinya pada pagi hari, tiba-tiba  beliuau didatangi sosok nak lingsir (orangtua) secara misterius.

Sosok nak lingsir itu minta agar Ida I Dewa Agung membuatkan sebuah palinggih di bucu kaja kangin pekarangan puri tersebut. Nak lingsir itu juga meminta agar dipanggil dengan Mbok (kakak) Nyoman saja. “Sejak saat itulah beliau (Ida I Dewa Agung Oka Geg) membangun Palinggih Ratu Nyoman Sakti. Kemudian berbagai kejadian-kejadian aneh yang menimpanya turut sirna,” kenang Dewa Agung Lingsir, yang dulunya   bernama Tjokorda Istri Ngurah, pangayah Palinggih Ratu Nyoman Sakti, Jumat (14/3). Dewa Agung Lingsir juga salah seorang menantu Ida I Dewa Agung Oka Geg,

Meskipun palinggih Ratu Nyoman berada di kawasan sekitar 3 meter x 3 meter di pekarangan puri, warga dari luar puri kerap tanggkil. Saat saat piodalan di Palinggih Nyoman Sakti pada Umanis Tumpek Landep, bisa mencapai 50 orang. Sedangkan ketika hari-hari biasa, yang tangkil sekitar tiga sampai lima orang. “Biasanya warga yang tangkil membawa banten atau menghaturkan pejati dan canang,” ujarnya.

Biasanya persembahan saat piodalan, Dewa Agung Lingsir menghaturkan banten pejati dengan penganan laklak tape, geti-geti (godem digoreng tanpa minyak) dan sebagainya. Jenis banten dan rarapan ini juga menjadi sarana bagi warga untuk memohon tamba atau sarana kesembuhan, keselamatan dan lainnya.

Dewa Agung Lingsir mengaku, saat ada warga yang  mohon anugerah dari roh suci di Palinggih ini, tidak perlu memakai japa mantra. Cukup dengan berbicara seadanya saja, layaknya bercakap-cakap dengan seseorang. Sebab Ratu Nyoman sudah mengerti maksud dan tujuan dari bahasa tersebut. Ia mencontohkan ketika ada warga yang nunas nerang, cukup dengan menyampaikan. “Mbok Nyoman, Mbok Nyoman, puniki tiyang rauh meriki jagi nunas nerang (Mbok Nyoman, ini saya datang kesini untuk mohon bantuan agar dianugerahi terang),” ujarnya, seraya mengatakan begitu pula jika memohon sesuatu lainnya.

Disamping itu, penggunaan bajra atau genta pantang dilakukan, jika dilanggar bisa berdampak kurang baik. Bahkan beberapa bulan lalu, sempat ada warga yang menghaturkan banten pecaruan, yang bersangkutan sekaligus membawa pamangkunya. Dia langsung meminta agar tidak menggunakan genta. “Setelah saya jelaskan, akhirnya hal itu bisa diikuti,“ ujarnya.

Secara niskala Palinggih Ratu Nyoman Sakti diyakini dijaga hingga ribuan bala pasukan, yang melakukan pengamanan secara niskala. Jelas Dewa Agung Lingsir, kerap pihak kepolisian dari Polres Klungkung sering tangkil ke Palinggih Ratu Nyoman, terutama sebelum mengungkap kasus-kasus besar. Selain itu warga sekitar juga ada yang nunas nerang (mengalihkan hujan), nunas tamba (minta pengobatan) dan sebagainya. “Dulu ada orang yang tangkil ke sini, setelah lama jatuh sakit. Yang bersangkutan mengaku mendapat petunjuk lewat mimpinya tangkil ke sini,” ujarnya. Akhirnya beberapa hari kemudian sakitnya berangsur-angsur sembuh.

Selain itu, beberapa warga sekitar juga kerap melihat sosok wanita di areal Palinggih. Hanya saja sesuai pengakuan yang pernah melihat, kata dia, sosok wanita itu ternyata berbeda-beda. Ada yang melihat wujud wanita cantik, ada juga meilhat sosok wanita yang menyeramkan. “Mungkin tergantung dari batin yang memandang,” katanya. *wa

loading...

Komentar