nusabali

Pertama Kali Terjadi, Sebelumnya Air Kolam Sempat Berubah Warna

  • www.nusabali.com-pertama-kali-terjadi-sebelumnya-air-kolam-sempat-berubah-warna

Contoh air kolam yang berubah warna menjadi merah, kemudian kuning, sempat kalinggihan di Pura Taman Narmada. Setelah digelar pacaruan manca warna dan pakelem bebek hitam, air kolam dan yang sudah kalinggihan di pura, berubah menjadi bening.

Ratusan Ikan di Kolam Pura Taman Narmada Bali Raja Tamanbali, Mati Mendadak


BANGLI, NusaBali
Ikan-ikan yang hidup di Kolam Pura Taman Narmada Bali Raja Tamanbali, Maha Gotra Tirta Harum, Desa Tamanbali, Kecamatan/Kabupaten Bangli, mendadak mati. Peristiwa matinya saturan ekor ikan ini pertama kali terjadi. Sedangkan sejumlah peristiwa orang tenggelam, hingga air kolam mendadak berubah warna, pernah terjadi di kolam tersebut.

Pantauan NusaBali, Sabtu (30/12) sejumlah krama masih mengumpulkan ikan-ikan jenis tawes, mujair, lele, julit, yang mati. Kelian Desa Pura Panataran Agung Tamanbali Dewa Putu Sudira, menyampaikan bila ikan-ikan di kolam Pura Taman Narmada banyak mati baru diketahui pada Jumat (29/12) pagi sekitar pukul 07.00 Wita. Salah seorang warga, Sang Made Wardana, yang hendak melihat ternak di dekat lokasi mendapati ikan banyak yang mati.

“Sang Made Wardana melaporkan pada kami selaku prajuru. Mendapat informasi tersebut kami langsung ke lokasi,” ungkapnya, Sabtu kemarin.

Dewa Sudira mengatakan ikan yang mati ukurannya beragam, mulai dari yang kecil hingga indukan. Disinggung terkait penyebab kematian ratusan ikan, pihaknya memiliki beberapa perkiraan. Pertama, karena air di kolam mengalami penurunan. Hal tersebut terjadi karena ada perbaikan saluran irigasi dan mengharuskan aliran air ditutup sementara.

“Air kolam bersumber dari jaringan subak, karena ada perbaikan makanya air ditutup. Hal itu berlangsung selama dua bulan,” jelasnya.  

Kemungkinan kedua, karena adanya abu vulkanik Gunung Agung yang sempat menyebar di wilayah Bangli, termasuk Desa Tamanbali. Kemungkinan terakhir, ikan-ikan keracunan. “Kami sendiri tidak tahu pasti penyebabnya. Hal seperti ini baru pertama kali terjadi. Kami berharap instansi terkait bisa mengecek atau menelusuri penyebab kematian ikan di sini,” ujarnya seraya menunjukkan bangkai ikan.

Ikan mati yang sudah diangkut sebanyak dua karung, dan dimanfaatkan oleh warga untuk pakan ternak.

Dewa Sudira menuturkan, Pura Taman Narmada yang diempon 84 kepala keluarga (KK) dari sameton Desa Penataran Agung Tamanbali sejatinya dijadikan salah satu objek wisata. Beberapa bantuan telah diberikan oleh pemerintah seperti jalan setapak, senderan taman, bale bengong hingga jembatan yang mempermudah akses ke lokasi. Tetapi pengelolaannya belum optimal, sehingga terkesan tidak terurus. “Setelah turun bantuan, tidak ada tindak lanjut. Jadi tidak bisa seperti objek wisata yang lainnya, bisa berkembang,” ujarnya.

Pihaknya juga mendapat bantuan bibit ikan dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Bangli.

Dewa Sudira menambahkan selama ini ada larangan memancing di kolam Pura Taman Narmada. Kolam merupakan bagian dari Pura Taman yang dijaga kesuciannya.

“Biasanya pemancing menabur kotoran sapi atau babi, untuk memancing ikan agar kumpul. Hal itu mengotori areal Pura Taman Narmada, makanya dibuat larangan memancing ikan di sini. Tapi ada saja yang mencuri-curi untuk memancing di kolam yang kedalamannya kurang lebih 10 meter ini,” imbuhnya.

Masih di lokasi yang sama, pamongmong Dewa Ketut Mangku, mengungkapkan beberap peristiwa sempat terjadi di kolam Pura Taman Narmada, mulai dari orang tenggelam, hingga air kolam berubah warna. Tiga orang tenggelam di kolam, yakni Dewa Nyoman Oka dan Anak Agung Suamba pada tahun 1963. I Wayan Sumada tenggelam pada tahun 1994. Yang bersangkutan tenggelam saat mandi. Dulunya bila air di sungai keruh, warga sekitar biasa mandi di kolam tersebut.

Sementara berubahnya warna air kolam terjadi di awal 2017 ini. Kala itu, air berwana kemerahan menyerupai warna darah.

Dewa Ketut Mangku mengaku saat kejadian tersebut sempat mengambil air kolam yang berwarna merah, disimpan dalam botol plastik. Ketika itu pihaknya tidak melakukan tindakan apapun. Selang enam hari kemudian, air kolam berubah warna kekuningan. Dewa Ketut Mangku yang ngayah sejak usia 20 tahun kembali mengambil air tersebut dan menyimpan pada botol plastik, kemudian kalinggihan di Pura Taman.

“Akhirnya saya coba minta petunjuk panglingsir Maha Gotra yakni Dewa Made Brata. Kami diminta untuk melaksanakan pacaruan manca warna dan pakelem bebek hitam di kolam. Setelah upacara dilaksanakan, besoknya air kolam kembali bening termasuk air di dalam botol yang sudah kalinggihan,” tuturnya.

Tidak hanya itu, sempat ada pohon tumbang di sekitar kolam, karena sudah kering seorang warga mengambil kayunya untuk dijadikan kayu bakar. Pada malam harinya warga tersebut didatangi oleh seseorang yang tidak diketahui agar segera mengembalikan kayu tersebut ke tempat semula.

“Kalau tidak segera dikembalikan yang bersangkutan diancam, nyawa bisa jadi taruhan. Kayu tersebut langsung dikembalikan ke tempal semula. Adapula yang mencuri-curi untuk memancing ikan di sini, namun kebanyakan orang luar. Kalau krama di sini tidak akan berani mengambil apapun di areal pura tanpa izin,” ungkapnya.

Belum diketahui penyebab matinya ratusan ikan di Kolam Pura Taman Narmada Bali Raja Tamanbali, tersebut. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Bangli I wayan Sukartana, belum bisa dikonfirmasi perihal matinya ikan di Kolam Pura Taman Narmada Bali Raja Tamanbali. Telepon dan pesan singkat dari NusaBali, tidak direspons. *e

Komentar