nusabali

FENG-SHUI : Kemiringan Tanah

  • www.nusabali.com-feng-shui-kemiringan-tanah

Ilmu Feng Shui memandang sangat penting untuk memperhatikan baik buruknya sebidang tanah.

Seorang ahli Feng Shui tentu mengerti langkah yang harus dilakukan dalam melakukan analisis baik buruknya sebidang tanah. Langkah pertama yang harus dijadikan sebagai standar pengamatan adalah mencermati nilai topografi sebidang tanah beserta kondisi lingkungan di mana objek tersebut berada, seperti; apakah permukaan tanah miring ke belakang, ke depan, ke kiri, atau ke kanan.

Tanah yang miring ke depan berarti memiliki bagian belakang yang tinggi. Karena memiliki nilai yang baik, tipe ini sering dicari orang. Selain itu, orang juga sering memodifikasi lahan rumahnya dengan membuat bentuk miring ke depan tersebut dengan cara meninggikan bagian belakang dari tanahnya, atau membuat sebuah bentukan gunungan pada area taman di belakangnya. Bentuk ini adalah penjabaran dari formasi ‘Empat Binatang Ba Gua’.

Empat Lambang Binatang pada awalnya adalah konfigurasi dari arah mata angin yang terdiri dari: Kura-Kura Hitam untuk Utara, Burung Phoenix Merah untuk Selatan, Naga Hijau untuk Timur, dan Macan Putih untuk Barat.

Penerapan ‘Empat Binatang Ba Gua’ dalam sebuh bidang tanah untuk bangunan yang rumusannya menganut kepada Teori Yin Yang dan Teori Wu Xing dalam spektrum warna, adalah sebagai berikut; Depan dilambangkan dengan Burung Phoenix Merah, Samping Kiri dilambangkan dengan Naga Hijau, Samping Kanan dilambangkan dengan Macan Putih, Belakang dilambangkan dengan Kura-Kura Hitam, dan Tengah dilambangkan dengan Ular Kuning.

Pada penampang tanah yang depannya tinggi dan belakangnya rendah, maka posisi Kura-Kura Hitam di belakang yang seharusnya dijadikan penahan atau sandaran menjadi tidak berfungsi. Nilai Feng Shui tanah seperti ini menjadi jelek, oleh karena posisi Kura-Kura Hitam yang rendah ini melambangkan penghuninya tidak dapat memiliki pertahanan yang kuat, sehingga usahanya sulit berkembang dan rezeki tidak dapat bertahan lama.

Formasi Kura-Kura Hitam di belakang yang lebih tinggi menandakan posisi Burung Phoenix Merah lebih rendah, sehingga pandangan penghuni saat melihat ke depan menjadi lebih lapang. Hal ini melambangkan bahwa rezeki penghuninya menjadi jauh lebih lapang serta lebih lancar.

Posisi Naga Hijau di bagian kiri sering diasosiasikan sebagai karakter pria atau ‘Yang’. Oleh karena itu, posisi kiri haruslah lebih dominan daripada sisi kanan yang berkarakter wanita atau ‘Yin’. Topografi tanah di kiri yang dibuat lebih tinggi daripada sebelah kanan, atau di dalam bangunan bagian sebelah kiri dibuat lebih dominan atau dibuat lebih maju dibandingan bangunan bagian kanan, merupakan formasi yang sering dibuat. Hal ini dimaksudkan supaya kepala rumah tangga yang pria dapat bisa lebih berkarya. Sebaliknya, apabila topografi tanah di kanan dibuat lebih tinggi daripada sebelah kiri, atau di dalam bangunan bagian sebelah kanan dibuat lebih dominan atau dibuat lebih maju dibandingkan bangunan bagian kiri, maka biasanya kaum wanita penghuni bangunan tersebut akan lebih mendominasi, baik dalam segi karier maupun finansial.

Apabila sebuah tempat usaha memiliki formasi Macan Putih (diasosiasikan sebagai karakter wanita atau ‘Yin’), yang bagian kanan lebih mendominasi, maka biasanya pemiliknya memiliki wibawa yang kurang. Sehingga para pekerjal ah yang mendominasi atau mendikte sang pemilik usaha. Tentunya hal ini kurang baik untuk kemajuan usaha.

Jadi, konsep ‘Empat Binatang Ba Gua’ digunakan untuk menilai topografi tanah dan bangunan dengan tujuan untuk melancarkan Qi. Saat Qi tersebut mengalir lembut ke dalam bangunan atau rumah, baik melalui permukaan maupun melalui dalam tanah, maka keharmonisan hidup dengan alam diharapkan dapat terwujud. *

Komentar