nusabali

Anak-anak Masuk ke Rumah Krama buat Minta Hasil Bumi

  • www.nusabali.com-anak-anak-masuk-ke-rumah-krama-buat-minta-hasil-bumi

Ritual Ngambeng bermakna sebagai media sosialisasi kepada krama pangempon bahwa 15 hari lagi akan ada piodalan di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga, yang jatuh pada Purnamani Jiyesta

Tradisi Ngambeng Jelang Pujawali di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga

GIANYAR, NusaBali
Ratusan anak-anak hingga remaja dari krama pengempon Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga, Desa Pakraman Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar menjalankan tradisi ritual Ngambeng pada Radite Kliwon Tolu, Minggu (15/4). Dalam ritual ini, mereka masuk ke rumah-rumah krama buat mengumpulkan segala hasil bumi untuk keperluan pujawali di Pura Samuan Tiga yang jatuh pada Purnamaning Jiyesta, 30 April 2018 mendatang.

Ratusan anak-anak hingga remaja yang terlibat dalam ritual Ngameng ini terdiri dari kaum lanang (laku) dan istri (perempuan). Mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok, di mana tiap kelompok minimal berjumlah 2 oarng dan maksimal belasan orang.

Masing-masing kelompok kemudian menyebar keliling wewidangan (wilayah) sejumlah desa pakraman yang jadi pangempon Pura Samuan Tiga, seperti Desa Pakraman Wanayu Mas, Desa Pakraman Taman, Desa Pakraman Tengkulak Kaja, Desa Pakraman Tengkulak Kelod, dan Desa Pakraman Bedulu. Dengan mengenakan pakaian adat madya, anak-anak peserta Ngambeng ini keliling memasuki rumah-rumah krama pangempon Pura Samuan Tiga.

Nah, saat memasuki rumah-rumah itu, mereka mengucapkan salam panganjali ‘Om Swasti Astu’. Pemilik rumah akan memberikan kelompok anak-anak ini aneka jenis hasil bumi untuk sarana upakara di Pura Samuan Tiga. Sudah mentradisi, setiap rumah yang didatangi pun telah mempersiapkan hasil bumi yang hendak dihaturkan ke Pura Samuan Tiga, seperti kelapa, daun pisang, busung (janur), selepan, du-pa, dan bahan upakara lainnya.

Selanjutnya, anak-anak ini membawa hasil bumi yang terkumpul dari prosesi Ngambeng untuk dihaturkan ke Pura Samuan Tiga. Sampai di pura, hasil bumi itu langsung dilepakkan di Perantenan Pura Samuan Tiga. Selanjutnya, anak-anak bersangkutan nunas pica (makanan) yang sudah disediakan di perantenan pura.

Menurut Bendesa Desa Pakraman Bedulu, I Gusti Made Ngurah Serana, tradisi ritual Ngambeng ini selalu digelar H-15 puncak karya pujawali di Pura Samuan Tiga, yang jatuh setahun sekali pada Purnamaning Jiyesta. "Karya pujawali biasanya berlangsung selama seminggu," jelas IGM Ngurah Serana kepada NusaBali, Minggu kemarin.

IGM Ngurah Serana mengatakan, ritual Ngambeng bermakna sebagai media sosialisasi kepada krama pangempon bahwa akan ada piodalan di Pura Kahyangan Jagat Samuan Tiga. Ini pula sekaligus media pendakian spiritual sejak usia dini.

Tradisi Ngambeng ini, kata Ngurah Serana, merupakan wujud bhakti krama kepada Ida Batara-batari di Pura Samuan Tiga. Karena itu, setiap krama yang didatangi, selalu menyambut anak-anak peserta Ngambeng dengan ramah dan murah hati. Sebab, mereka meyakini, dengan menghaturkan sesuatu bahan upacara, akan mendatangkan rezeki dan mukzisat, terutama para pedagang.

Disebutkan, dalam tradisi Ngambeng belakangan, kelompok anak-anak dan remaja bukan lagi hanya mendatangi rumah-rumah krama di desa-desa pangempon Pura Samuan Tiga. Bahkan, desa di luar juga didatangi, sepert Desa Pakraman Ubud, Kecamatan Ubud, Gianyar. Yang melegakan, desa luar pangempon yang didatangi menyambut positif ritual Ngambeng untuk Pura Samuan Tiga ini. "Karena ada be-berapa pengayah Ngambeng sampai ke luar desa pangempon, kami mohon krama yang rumahnya didatangi agar maklum," papar Ngurah Serana.

Menurut Ngurah Serana, tradisi ritual Ngambeng ini pantang untuk ditiadakan. Jika sampai tidak dilaksanakan, akibatnya bisa fatal. Dia mencontohkan kejadian beberapa tahun silam di mana ritual Ngambeng sempat tidak digelar. Muncul kemudian kejadian aneh.

Kala itu, berbagai sarana upacara piodalan di pura ini menjadi serba kekurangan, karena hilang secara misterius. Bahkan, beberapa sarana upakara yadnya yang sebelumnya terlihat, mendadak hilang tanpa lagi bisa ditemukan. "Karena kejadian-kejadian aneh seperti itu, tradisi ini bertahan hingga kini. Kami tidak merani meniadakannya,” jelas Ngurah Serana. *nvi

loading...

Komentar