nusabali

Teater Tuntun Remaja Jadi Berkarakter

  • www.nusabali.com-teater-tuntun-remaja-jadi-berkarakter

Melalui pentas teartrikal ini, pemulung  pun dapat memberikan pendidikan budi pekerti kepada pelajar zaman now (sekarang).

KLUNGKUNG,NusaBali
Salah satu dari sembilan kabupaten/kota di Bali yang penduduknya amat kental melakoni agama Hindu, adat, tradisi, seni budaya Bali. Namun, insan seni di wilayah bekas pusat kerajaan di Bali ini masih memberi ruang cukup terbuka dalam pengembangan kasanah seni modern; teater.

Lomba teatrikal tingkat SMA/SMK di Kabupaten Klungkung, Minggu (22/4) malam, serangkaian HUT Puputan Klungkung ke-110 dan HUT ke-26 Kota Semarapura Tahun 2018, bukti keterbukaan itu.Panitia lomba ini layak diacungi jempol karena berani ambil risiko. Karena biasanya seni teater amat sulit meraih penonton, apalagi  apresiator.

Koordinator Lomba Dewa Gde Darmawan mengatakan, lomba ini bertema ‘Menginspirasi Perjuangan Dalam Pembangunan Segala Bidang, Demi Terwujudnya Klungkung Yang Damai dan Sejahtera’. Kata dia, melalaui lomba diharapkan mampu meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai-nilai karakter dan nilai-nilai perjuangan para pendahulu. Dari lomba ini akan terbentuk karakter remaja positif, budi pekerti luhur dan jiwa yang matang.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Klungkung ini, menambahkan peserta lomba tingkat SD terdiri dari tiga grup dari tiga kecamatan di Kabupaten Klungkung, yakni Dawan, Klungkung, dan Banjarangkan.

Masing-masing group terdiri dari 12 orang. Lomba serupa juga digelar ditingkat SMP, Jumat 20 April dan tingkat SMA/SMK, Minggu 22 April. Selain meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai perjuangan para pendahulu, lomba ini diharapkan mampu membangkitkan kreativitas dan motivasi peserta didik di bidang seni budaya khususnya seni teater. “Lomba ini akan membangkitkan kreativitas siswa khususnya bidang seni teater,” ucap Dewa Darmawan.

Dalam lomba tersebut, SMA Pariwisata Saraswati (Smapsa) Klungkung berhasil meraih juara pertama. Smapsa menggarap teatrikal berjudul ‘Pahlawanku’ terinspirasi dari perjuangan seorang pemulung. Judul ini mengisahka, sosok Gede, seorang anak dari desa. Dia bersekolah di sebuah sekolah SMA swasta. Ayah dan ibunya bekerja sebagai petani yang berpenghasilan pas-pasan. Orangtua Gede sangat menyayangi Gede karena Gede anak mereka satu-satunya.

Segala keinginan dan permintaan Gede selalu berusaha dipenuhi oleh kedua orangtuanya. Walaupun mereka harus hutang kesana kemari demi memenuhi keinginan anaknya karena jika tidak dipenuhi keinginannya, Gede selalu ngambek sampai ngamuk.

Suatu hari ketika pulang sekolah Gede meminta kepada orangtuanya untuk diberikan HP (handphone) keluaran terbaru seharga Rp 8 juta. Padahal Gede sudah memiliki HP yang baru saja dibelinya. Namun orangtuanya tidak punya uang sebanyak itu. Hutang yang dulu untuk membelikan Gede HP juga belum lunas. Gede mengancam kalau tidak dibelikan sesuai keinginannya, dia akan berhenti sekolah

Hari-hari berikutnya karena belum dibelikan HP, Gede bolos sekolah, kemudian menghabiskan waktunya untuk kumpul bersama teman-temannya yang pengangguran, yakni Gatot dan Joni. Mereka nongkrong di Pos Siskamling sambil minum-minuman keras.

Kemudian saat Gede duduk seorang diri, Gede melihat seorang pemulung bernama Budi. Awalnya Gede merasa marah dan terganggu dengan kehadiran seorang pemulung itu, tetapi lama-kelamaan Gede merasa tertarik untuk mengetahui alasan Budi melakukan itu. Budi menceritakan pada Gede tentang keadaan keluarganya.Mendengar cerita Budi, tidak terasa air mata Gede menetes. Gede langsung teringat akan kedua orangtuanya yang bekerja keras banting tulang untuk memenuhi menyekolahkannya dan berusaha memuhi keinginannya. Gede tersadar akan semua kesalahannya selama ini.

Pentas teater SMA Pariwisata ini berhasil memukau para penonton dan dewan juri. Karena para pemainya sangat menjiwai masing-masing karakter peran yang dimainkan. Para siswa yang bermain penuh karakter dimaksud yakni Riski Imam Parlimpahan sebagai Gede, Andre sebagai Bapak Gede, Ni Luh Ana Suryantini sebagai Ibu Gede, I Gede Teguh Widiharta sebagai Budi.

Dede Juniarta sebagai Gatot, Fanku Fadila sebagai Joni, Ni Ketut Lidya Aulia sebagai Pembaca puisi, Agus Arta Suyadnya sebagai Penari, I Made Galang Wibisana sebagai penabuh rindik, I Putu Yudi Saputra sebagai pemain gitar I Putu Sena Sancaya sebagai pemain suling. Dialog dan naskah dipandu oleh Guru Bahasa Indonesia Ni Made Juliantari dan Ni Komang Martini.Tehnik gerak dan tari dipandu guru tari Kadek Ambara Jaya Kaswara. Sedangkan ide cerita dari Waka Kesiswaan SMA Pariwisata Saraswati I Made Kasjana. "Ide cerita ini kami sesuaikan dengan kondisi di zaman modern ini terutama di kalangan pelajar," katanya.

Kata dia, melalui pentas teartrikal ini, pemulung  pun dapat memberikan pendidikan budi pekerti kepada pelajar zaman now (sekarang), apalagi yang mengalami nasib serupa. Di mana selalu menuntut kepada orangtuanya untuk memiliki HP keluaran terbaru, sehingga kalau tidak dibelikan menjadi malas sekolah. Di satu sisi orang tua siswa banting tulang untuk menyekolahkan anaknya.

Setelah bertemu langsung dan berbagi cerita dengan pemulung itu, akhirnya anak tersebut menjadi sadar, atas perjuangan pemulung itu perjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga atas suri tauladan dari pemulung mampu menyadarkan anak tersebut dan sadar akan perjuangan orang tuanya. “Karena pemulung itu Gede menjadi sadar atas perbuatannya, jadi pemulung juga seorang pahlawan,” katanya. Pemulung juga mengambil sampah, di mana sampah dapat menimbulkan berbagai persoalan, jadi sekaligus turut menjaga pertiwi.

Disebutkan, penggarapan ide dan penampilan teater ini tidak menemukan kendala yang begitu signifikan. Karena judul yang diambil sederhana dan disesuaikan dengan permasalahan sosial dialami anak-anak muda. “Sehingga anak-anak lebih gampang menjiwai dari peranan tersebut,” ujarnya.

Dijelaskan karena di sekolah belum memiliki ekstrakulikuler teater, maka para pemainnya juga diambil secara spontan dibimbing langsung oleh masing-masing guru yang membidangi. Pelatihannya juga singkat, hanya tujuh kali, itu pun diambil saat siswa sudah selesai pembelajaran di kelas atau di sore hari. Supaya tidak menganggu aktivitas belajar siswa. “Teaterikal ini juga untuk memberikan pendidikan karakter, supaya anak-anak bisa menghargai perjuangan orangtuanya saat keinginan si anak tidak bisa dipenuhi agar tidak menyalahkan orang tuanya,” ujarnya.*wan

loading...

Komentar