nusabali

Istri Bupati Bangli Meninggal karena Kanker Payudara

  • www.nusabali.com-istri-bupati-bangli-meninggal-karena-kanker-payudara

Istri Bupati Bangli I Made Gianyar, yakni Ni Luh Putu Erik Wiriyani, 55, meninggal dunia dalam perawatan di Wing Amerta RS Sanglah, Denpasar, Kamis (6/9) subuh pukul 04.30 Wita.

DENPASAR, NusaBali
Nyonya Erik menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan kanker payudara yang dideritanya selama 4 tahun. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Nyonya Erik sempat selama 5 hari dirawat di Wing Amerta RS Sanglah, sejak 1 September 2018. Sebetulnya, almarhum yang berstatus PNS Pemkab Bangli ini sebelumnya sempat selama 12 hari dirawat di sana sejak 14 Agustus 2018. Kemudian, Nyonya Erik dibawa pulang setelah kondisinya merasa lebih baik, 26 Agustus 2018. Namun, dia kembali dibawa ke RS Sanglah pada 1 Septeber, sampai akhirnya meninggal, kemarin subuh.

Hingga saat ini, jenazah Nyonya Erik masih disemayamkan di rumah duka Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah. Rencananya, jenazah almarhum akan dibawa pulang ke rumah duka di Banjar/Desa Bunutin, Kecamatan Kintamani, Bangli, Jumat (7/9) subuh tadi. Sorenya sekitar pukul 17.00 Wita nanti, jenazah almahum rencananya akan dikuburkan lewat prosesi makingsan ring Gni di Setra Desa Pakraman Bunutan.

Sedangkan upacara Ngurug baru akan dilaksanakan pada Buda Paing Wayang, Rabu, 19 September 2018 mendatang. Jenazah almarhum tidak langsung diabenkan, karena sesuai awig-awig yang berlaku di Desa Pakraman Bunutin, upacara ngaben dilaksanakan 2 tahun sekali.Almarhum Nyona Erik berpulang buat selamanya dengan meninggalkan suami tercinta Made Gianyar, 54, serta dua anak: Ananta Wicaksana Wiryagian, 22 (mahasiswa Teknik Arsitek ITS Surabaya) dan Cintya Wulandari Wiryagian, 21 (masaiswi Akutansi UGM Jogjakarta).

Sang suami, Bupati I Made Gianyar, tampak tegar saat melayani para pelayat yang datang di rumah duka di Instalasi Kedokteran Forensik RS Sanglah, Kamis kemarin. Meski tegar, gurat kesedihan tentu tidak bisa disembunyikan karena kehilangan istri tercinta.

Kepada media, Made Gianyar menceritakan almarhum istrinya sudah lama didiagnosa menderita kanker payudara. Kala itu, tahun 2014, sang istri merasa ada sesuatu yang berbeda pada payudaranya. Saat diperiksa, ternyata almarhum sudah mengalami kanker payudara stadium III lanjut.

“Waktu itu, Hari Raya Kuningan (2014, Red). Saat istri saya selesai mandi, dia merasa aneh dengan warna payudaranya yang tidak seperti biasanya. Padahal, tidak ada benjolan apa pun. Karena tahu ada yang aneh, apalagi istri saya Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Bangli, dia langsung periksakan diri. Setelah diperiksa, baru ketahuan kalau istri mengalami kanker payudara stadium lanjut,” kenang Gianyar.

Operasi pun sempat dilakukan pada 2014 di Wing Amerta RS Sanglah. Usai operasi, terapi radiasi kanker payudara juga dilanjut ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, hingga kemoterapi pun dilakukan. “Saat itu sudah bersih, sudah dievaluasi. Ibu sudah bisa ngantor, beraktivitas seperti biasa. Ibu menjalankan tugas sebagaimana mestinya,” papar Bupati Bangli dua periode (2010-2015, 2016-2021) ini.

Pada 2016, muncul bitnik-bintik merah di bagian lengan dan tubuh almarhum. Setelah dikonsultasikan, dokter yang membantu perawatan menyarankan untuk segera dibawa ke RSCM Jakarta guna mempercepat penanganan. Setelah dilakukan PET/CT Scan, rupanya ada penyebaran ke organ hati, paru-paru, dan tulang.

“Sebenarnya tahun 2014 itu sudah bersih. Tapi ternyata dalam perjalanan 2 tahun itu, menyebar ke organ. Padahal, rutin sudah mengkonsumsi obat-obatan yang dianjurkan. Saat itu, harus kemoterapi lagi 12 kali, dua minggu sekali,” katanya.

Setelah kemoterapi berjalan, hasilnya dievaluasi. Hasilnya cukup mengecewakan, karena kemoterapi yang dilakukan tidak mempan melawan penyakit. Almarhum disarankan untuk kemoterapi lagi dan dievaluasi perkembangannya. Sampai akhirnya Bupati Made Gianyar berencana merawat inap istrinya di RSCM Jakarta, 14 Agustus 2018. Karena kesibukan perayaan HUT Provinsi Bali dan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, akhirnya rencana itu mundur jadi 18 Agustus.

Namun sayang, almarhum sudah tidak tahan dengan sakitnya. Aalmarhum diputuskan untuk dirawat di Wing Amerta RS Sanglah, sejak 14 Agustus. “Setelah dirawat 12 hari dan kondisinya, ibu sempat pulang enam hari. Tapi setelah itu, harus dirawat lagi di Wing (Wing Amerta RS Sanglah),” beber Gianyar.

Sebelum sang istri menghembuskan napas terakhir, Gianyar sebetulnya sudah sempat dapat firasat melalui mimpi. Dia bermimpi naik pesawat berdua dengan sang istri. Namun, setelah di atas pesawat, ternyata sang istri menghilang. Gianyar tidak mau menganggap hal itu sebagai firasat, karena tak ingin terus memikirkannya. “Saya tidak menyangka kalau itu pertanda istri akan pergi untuk selama-lamanya,” cerita politisi PDIP yang sempat menjabat Wakil Bupati Bangli 2005-2010 ini.

Menurut Gianyar, pertanda lain juga ditunjukkan sang istri. Tiga hari sebelum meninggal, almarhum meminta sang suami untuk tetap menemaninya. Padahal, biasanya almarhum justru mendorong suaminya yang seorang bupati untuk tidak meninggalkan tugas dinas. Namun, lagi-lagi Gianyar tidak mau menganggap itu sebagai firasat. Dia hanya berpikir bahwa itu adalah kewajiban suami untuk menemani istrinya yang sedang sakit.

“Saya bolak balik menemani istri dirawat. Pagi bertugas di Bangli, setelah itu langsung ke rumah sakit lagi. Biasanya pagi-pagi istri saya yang malah membangunkan saya untuk berangkat kerja. Tapi, tiga hari sebelumnya, dia meminta untuk menemani terus. Padahal, waktu itu saya ada janji dengan badan pengembangan pariwisata.”

Gianyar menyebutkan, segenap usaha telah dilakukan untuk kesembuhan sang istri, namun tidak ada yang mampu melawan takdir Tuhan. Sang istri kini telah beristirahat dari sakitnya. Bupati Made Gianyar dan dua anaknya, Ananta Wicaksana dan Cintya Wulandari, juga sudah menyiapkan hati untuk menerima kemungkinan terburuk ini. “Saya katakan kepada anak-anak, kemungkinan terburuk kalau ibu akan meninggal. Kami bertiga sebelum istri meninggal sudah menangis. Kalau ibu sudah tidak ada, kita tidak boleh menangis lagi. Harus ikhlas,” cerita Gianyar.

Namun, ada sedikit penyesalan dalam benak Bupati Made Gianyar. Selama 23 tahun pernikahannya, belum pernah sama sekali merayakan ulang tahun pernikahan. Karena kesibukannya menjadi pemimpin daerah, dia sampai tidak sempat membuat perayaan hari jadi pernikahan, meskipun secara sederhana.

“Setiap tanggal 14 Juli saya berjanji akan membuat perayaan kecil untuk ulang tahun pernikahan, walaupun dengan cara makan di luar bersama. Tapi, karena sibuk memimpin masyarakat di Bangli, akhirnya tidak jadi terus. Padahal, tahun 2020 kami berencana merayakan ulang tahun pernikahan ke-25. Tapi takdir Tuhan kita harus jalani,” katanya.

Bagi Gianyar, terlalu banyak kenangan yang berkesan dengan almarhum istrinya ini. Nyonya Erik Wiriyani adalah sosok yang setia. Gianyar dan Erik Wiriyani dulunya sama-sama sekolah di SMA PGRI 1 Denpasar. Bagi Gianyar, tidak mudah mendapatkan Erik Wiriyani yang notabene dari keluarga mampu, sedangkan dirinya hanya pria kampung yang sangat sederhana. Keduanya kemudian bertemu kembali setelah sama-sama dewasa, ketika Made Gianyar telah bekerja.

“Dia (almarhum) menemani saya dari nol. Mulai dari saya masih jadi dosen di Universitas Warmadewa, sampai sekarang menjadi bupati pun sikapnya tetap sama: setia dan sangat mencintai suami. Karena itu, saya mewakili almarhum berterima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidupnya. Sekaligus memohon maaf bila selama hidup istri saya ada salah,” pinta Gianyar. Bupati juga tak lupa berterima kasih kepada RSUD Bangli, RS Sanglah, RSCM Jakarta, dan BPJS Ke-sehatan yang selama ini telah berjuang membantu istrinya melawan penyakit yang dideritanya.

Sementara itu, Kepala Desa (Perbekel) Bunutin, I Made Subrata, yang notabene adik kandung Bupati Made Gianyar, mengatakan jenazah almarhum Nyonya Erik akan dipulangkan ke rumah duka, Kamis subuh pukul 05.00 Wita tadi. Siangnya pukul 12.00 Wita dilanjut dengan prosesi nyiramang layon. Sedangkan penguburan dilakukan sore ini pukul 17.00 Wita.

Menurut Subrata, penguburan sore ini dilakukan melalui prosesi Mekingsan ring Gni, karena Desa Bunutin sedang mempersiapkan upacara piodalan di Pura Dalem Pingit Melambo. "Jadi, mekinsan dulu, nanti 19 September baru akan dilaksanakan upacara Ngurug," jelas Subrata. *ind,es

loading...

Komentar