nusabali

Sukseskan Pertemuan IMF–World Bank, Satpol PP Razia Gelandangan dan Pengemis

  • www.nusabali.com-sukseskan-pertemuan-imf-world-bank-satpol-pp-razia-gelandangan-dan-pengemis

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Badung meningkatkan razia terhadap gelandangan dan pengemis (gepeng) yang berkeliaran di ruas-ruas jalan prokol, terutama di wilayah Badung Selatan.

MANGUPURA, NusaBali
Hal ini dalam rangka memberikan kesan positif kepada para delegasi peserta Annual Meeting IMF – World Bank yang akan digelar Oktober 2018 di Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Badung.

“Iya, dalam rangka menyukseskan pertemuan IMF–World Bank, kami sejak awal September 2018 rutin melakukan razia gepeng. Para pedagang yang berjualan di atas trotoar juga kami tertibkan,” ungkap Kepala Satpol PP Kabupaten Badung I Gusti Agung Kerta Suryanegara, Rabu (12/9).

Tujuan dilakukan razia, supaya para delegasi yang akan menghadiri IMF–World Bank merasa nyaman, tidak terganggu oleh keberadaan gepeng maupun pedagang yang berjualan di atas trotoar. “Intinya agar tidak mengganggu peserta IMF-WB, makanya kami razia secara rutin. Apalagi pedagang di atas trotoar sangat mengganggu,” tuturnya.

“Badung kan terkenal dengan pariwisatanya, masak ada gepeng atau pedagang acung. Apalagi pedagang yang biasa berjualan di traffic light,” imbuhnya.

Sampai saat ini, pihak Satpl PP Badung telah mengamankan 80 gepeng dan 20 pedagang di atas trotoar yang berkeliaran di wilayah Kuta. “Dari dulu yang banyak itu memang kawasan Kuta. Untuk wilayah Jimbaran hingga Nusa Dua tidak ditemukan sama sekali,” ungkap Suryanegara.

Para gepeng yang terjaring razia dipulangkan ke kampung halamannya. “Setelah kami berikan pembinaan bersama Dinas Sosial, mereka (para gepeng) dipulangkan ke kampung mereka masing-masing,” ucapnya.

Tak hanya terhadap gepeng dan para pedagang di atas trotoar yang dirazia, Satpol PP juga merazia pengendara yang memarkir kendaraannya sembarangan. Baliho atau reklame yang tidak sesuai peruntukan pun dibersihkan. “Kami juga bersih-bersih reklame baik yang tidak berizin atau yang sudah kadaluwarsa, supaya lebih rapi dan tertib,” tandas Suryanegara. *asa

loading...

Komentar