nusabali

Petani ‘Gila’ Pembudidaya Kakao

  • www.nusabali.com-petani-gila-pembudidaya-kakao

Berbekal hanya lulusan SMP hingga menjadi buruh tani di Jepang. Lalu kembali ke kampung halaman sebagai petani kakao sukses.

NEGARA,NusaBali

I Made Sugandi, 49, warga Banjar Pasatan, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, merupakan salah satu petani kakao berprestasi. Selain mendapat sertifikat penghargaan dari Dewan Kakao Indonesia tahun 2017,  petani yang berhasil menghasilkan kakao fermentasi organik berkualitas impor  ini juga mendapat sertifikat penghargaan ‘International Cocoa Award 2017’ yang diserahkan di Paris, Prancis, pada 30 Oktober 2017.

Sugandi yang juga menjadi Ketua Unit Pengolahan Hasil (UPH) Amertha Urip di wilayah subak abian di banjarnya, Subak Dwi Mekar, ini mengisahkan, dirinya tergolong petani baru. Awalnya, begitu tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia yang tidak tertarik melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA, memilih mengikuti kursus montir di Banyuwangi, Jawa Timur.

Seusai mengikuti kursus montir selama 1,5 tahun, ia pun bekerja sebagai petugas bagian engineering di salah satu tempat usaha tambak di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Jembrana. "Kerja sebagai engginering selama 2 tahun. Setelah itu, saya lari ke dunia pariwisata, kerja menjadi bartender selama 8 tahun di Hotel Mahari di Kuta, Badung," ujar ayah dua orang anak ini.

Ketika bekerja di Kuta, ia pun tertarik menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jepang, sehingga mengikuti kursus bahasa Jepang. Keinginan untuk bekerja di Negeri Sakura itu pun terkabul memasuki tahun 2000, ketika dirinya menginjak usia 32 tahun. "Kerja di Jepang sampai 11 tahun. Pertama kerja di Jepang, ikut menjadi tukang bagian las di tempat usaha peleburan baja di Chiba. Setelah dari Chiba, pindah kerja menjadi buruh tani selama 9,5 tahun di Hibaraki, dan karena sudah usia menginjak 40 tahun, akhirnya pulang kembali ke kampung tahun 2011," kenangnya.

Saat balik ke rumah, ia yang hampir 10  tahun menjadi buruh tani di Jepang, membulatkan tekad untuk mewarisi pekerjaan kedua orangtuanya yang menjadi petani kebun. Namun sebelum menjadi petani, ia pun sempat bingung menentukan komoditi perkebunan dengan pasar yang menjanjikan.
Untuk itu, ia berusaha mencari referensi di Dinas Pertanian Pemkab Jembrana, sehingga mendapat saran untuk bertani kakao. "Begitu mendapat informasi kalau kakao sangat cocok dikembangkan, dan permintaan pasar terhadap kakao sangat tinggi, saya akhirnya semakin bertekad fokus bertani kakao," ujarnya.

Begitu mendapat referensi agar memilih bertani kakao, terbesit dalam pemikirannya, jika kedua orangtuanya juga bertani kakao, namun tidak mendapat penghasilan yang berarti.  Dari pemikiran itu, ia pun memutuskan kembali mencari referensi ke Pusat Penelitan Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia di Jember, Jawa Timur,  untuk mendapat informasi kakao unggulan. Termasuk cara perawatan maupun pengolahannya, sehingga upaya bertani kakao yang akan ditekuninya,  benar-benar membuahkan hasil yang lebih maksimal dibanding hasil kakao yang bertahun-tahun ditekuni orangtuanya.

Saat mendatangi Puslitkoka Indonesia secara mandiri itu, ia pun mendapat referensi jenis kakao dari beberapa klon unggulan. Namun saat itu, di Puslitkoka Indonesia belum memiliki bibit sejumlah jenis kakao unggulan yang dimaksud, dan disarankan untuk mencari klon salah satu kakao unggulan tersebut, yakni Masamba Cocoa Clone (MMC) di Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel).

"Begitu mendapat saran agar mencari varietas (jenis) MMC itu, dan kebetulan saya ada teman salah satu orang Bugis, saya telepon dia, dan dia sanggup mencarikan. Saya beli langsung sebanyak 3 kuintal entress (cabang untuk distek, Red), dan saya beli termasuk biaya kirim sampai di rumah, denngan harga Rp 9 juta," kenangnya.

Begitu menerima pesanan entrees MCC ketika memasuki sekitar awal tahun 2012, dirinya langsung menata lahan kebun yang sebelumnya dikelola orangtuanya. Seluruh tanaman-tanaman lain, termasuk  kakao yang sebelumnya ditanam orangtuanya, sengaja dibabat.

Waktu merenovasi kebun, itu lah dirinya sempat dicap sebagai orang gila oleh para warga sekitar. "Saya dibilang gila, karena semua tanaman yang ada saya babat. Tidak  terkecuali tanaman kakao sebelumnya. Hampir semua warga sekitar yang juga lebih dulu jadi petani, mengatakan saya stres setelah pulang dari Jepang," tuturnya.

Tidak hanya warga sekitar, ketika merenovasi kebun tersebut, ia pun bersitegang dengan ayahnya. Bahkan, saat diketahui membabat pohon kakao orangtuanya yang rata-rata juga sudah besar, untuk kembali membudidayakan kakao itu, dirinya juga sempat diusir oleh ayahnya. Tetapi karena yakin dengan hasil yang akan dikerjakannya, dan mendapat dukungan dari sang istri termasuk salah satu kakak laki-lakinya, ia pun tetap menguatkan mental, tanpa menghiraukan larangan ayahnya, maupun cemoohan warga sekitar.

"Renovasi kebun itu memang menjadi hal utama yang terpenting saat saya memutuskan bertani kakao. Soalnya, kebun yang duluan itu, sebenarnya bukan kebun kakao, tetapi hutan kakao. Walaupun ada hambatan dan tekanan mental, saya tetap harus lakukan renovasi kebun," ujarnya.

Nah, ketika mengetahui kakao unggulan yang dibudidayakannya juga sudah mulai berbuah 10 bulan kemudian, dan menunjukkan hasil berkesinambungan, emosi ayahnya, akhirnya reda. Begitu juga warga sekitar, malah berbalik ingin belajar darinya, dan ia pun menerima secara terbuka. "Dengan sendirinya, waktu dilihat hasilnya, warga yang dulu bilang saya gila, mereka banyak nanya ke saya. Dan saya pun terbuka. Masalah entrees (cabang) yang dulu saya beli, saya juga berikan cuma-cuma," ujarnya.

Dalam setahun, kata Sugandi, kakao unggulan yang dikembangkan dengan diimbangi perawatan rutin di lahan kebun seluas 10 hektare milik keluarganya itu, dapat menghasilkan sekitar 1,5 ton kakao fermentasi per hekatare per tahun.

Untuk kakao kering organik yang dihasilakannya itu juga melalui proses fermentasi. Di mana untuk kakao fermentasi organik hasil bertaninya yang selalu dipasarkan ke luar negeri atau diimport, itu bisa terjual hingga seharga Rp 45.000 per kilogram. Selisih harga kakao fermentasi organiknya itu pun sangat jauh dibanding kakao kering yang bisa dijemur tanpa proses fermentasi yang rata-rata hanya terjual Rp 12.000 per kilogram.

"Memang untuk menghasilkan kakao organik, perlu perawatan ekstra. Sama juga kalau melalui proses fermentasi, memang agak ribet dibanding hanya dijemur biasa. Tetapi dibalik proses yang lebih ekstra itu, hasilnya jauh lebih ekstra. Dan, sebenarnya kalau memang serius ingin mendapat hasil esktra itu, prosesnya tidak begitu sulit. Asalkan ada kemauan dan tekad," ungkapnya. *Gusde

Komentar