nusabali

LENTERA : Menyembuhkan Kemarahan

  • www.nusabali.com-lentera-menyembuhkan-kemarahan

TUBUH manusia dibentuk oleh bahan-bahan bertentangan, seperti air dan api.

Sehingga jika seseorang tidak cerdas di depan tubuh manusia, tubuh ini bisa sangat mengguncangkan perjalanan spiritual kemudian. Seorang guru spiritual bercahaya pernah berpesan 2.500 tahun yang lalu: “Jiwa yang meluncur turun setelah kematian, sebanyak pasir di Sungai Gangga. Namun, jiwa yang bergerak naik setelah kematian, hanya sejumlah pasir dalam satu genggaman tangan!”

Di antara sejumlah api yang ada di dalam diri, yang paling menghancurkan adalah kemarahan. Andaikan Presiden negeri adi kuasa marah besar, hanya dalam hitungan menit planet bumi ini bisa hancur. Karena demikian keadaannya, akan sangat besar pengaruhnya pada perjalanan spiritual kemudian, kalau manusia serius mengolah kemarahan menjadi bahan-bahan kedamaian. Dan, bekal sangat menentukan agar bisa sampai di sana adalah pengertian sangat mendalam tentang kemarahan. Berikut beberapa akar kemarahan, sekaligus obatnya, yang layak direnungkan oleh para sahabat.

Tingkatan-tingkatan kemarahan

Pertama, sekaligus yang paling permukaan, kemarahan terjadi karena kehidupan bertumbuh tidak sejalan dengan harapan. Maunya kaya, kenyataannya tidak bisa kaya. Maunya anak-anak penurut, kenyataannya malah melawan. Maunya pasangan hidup memuaskan, kenyataannya malah sangat tidak memuaskan. Jika itu yang terjadi, miliki keberanian untuk mendekatkan harapan dengan kenyataan. Tidak mudah tentu saja. Namun agar sehat dan selamat, tidak ada pilihan lain kecuali menurunkan harapan. Memilih pergaulan yang lebih sederhana, melakukan tugas-tugas rendahan setiap hari, seperti menyapu, mengepel, memungut sampah adalah sejumlah pilihan. Mendidik diri untuk tahu diri, lebih-lebih mengembangkan rasa berkecukupan adalah pilihan lain.

Kedua, kemarahan juga bisa terjadi karena seseorang belajar dari lingkungan seperti orangtua serta lingkungan bertumbuh yang penuh amarah. Andaikan ini yang mengganggu para sahabat, psikologi kognitif menyarankan untuk mengimbangi energi negatif di dalam dengan energi yang lebih positif. Dari bacaan, tontonan, pergaulan, usahakan agar lebih positif.

Yang paling disarankan di jalan ini adalah melakukan percakapan di dalam yang lebih positif konstruktif. Ringkasnya, kurangi menyebut diri sebagai korban, serta menyebut orang melukai sebagai lawan. Sahabat yang menghabiskan banyak waktu dalam kesendirian, mengerti bahwa energi sebagai korban ini sering muncul meminjam berbagai wajah. Dari orangtua galak di masa kecil, teman bermusuhan saat remaja, sampai atasan yang tidak memuaskan ketika dewasa. Intinya, energi sebagai korban ini minta diperhatikan. Agar sembuh dan tumbuh, sadari ia begitu muncul ke permukaan. Terima energi ini sebagai bagian dari diri Anda yang utuh dan holistik. Sesederhana alam menerima malam dan siang.

Ketiga, akar kemarahan yang lain adalah luka jiwa dari masa lalu. Dari pengalaman traumatik mengalami pelecehan seksual di masa kecil, orangtua yang wafat ketika masih kecil, orangtua yang berpisah, kena pukul di sekolah ketika masih kecil, sampai ditipu orang urusan uang yang sangat besar. Obat yang sangat menyembuhkan dalam hal ini adalah memaafkan.

Agar wajah memaafkan lebih jelas, ada dua tingkatan memaafkan. Bagi sahabat yang di dalamnya peka dan mudah luka, lebih-lebih pihak yang melukai sangat terbakar, memaafkan cukup dilakukan di dalam hati saja. Sadari dalam-dalam, kalau itu cara diri Anda membayar utang karma dari masa lalu. Jika Anda kokoh, bagus kalau menemui orang yang melukai, mengerti jejaring penderitaan di balik luka jiwa yang mereka timbulkan, kemudian memaafkan melalui tindakan yang tanpa dendam dan tanpa amarah. Ini bukan pekerjaan semalam. Butuh waktu bertahun-tahun agar bisa memaafkan secara ikhlas. Dan, faktor terbesar yang membuat memaafkan sangat sulit adalah ego atau keakuan. Begitu ego bisa diperkecil dengan bacaan, pelayanan, keterhubungan, apalagi praktik spiritual mendalam seperti meditasi, maka memaafkan jadi lebih mudah.

Keempat, kemarahan membakar selama bertahun-tahun bisa terjadi karena seseorang mengambil jalan hidup yang berseberangan dengan panggilan jiwa. Misal, sejak kecil seseorang sudah diberi tanda untuk masuk ke dunia spiritual, entah melalui mimpi atau kecelakaan, tapi yang bersangkutan ngotot untuk kaya di dunia material. Hasilnya, dari tahun ke tahun kehidupan terbakar oleh kemarahan.

Bila ini yang mengganggu para sahabat, cepat lakukan langkah terbalik. Ia yang jarang di rumah, alokasikan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga ditemani kasih sayang. Kawan-kawan yang jarang berdoa, tekuni dunia doa sedalam-dalamnya. Teman-teman yang tidak pernah baca buku spiritual, mulai membaca buku spiritual. Jika tidak pernah tertarik menjumpai guru spiritual, latih diri untuk sekali-sekali berjumpa guru spiritual.

Andaikan Anda terlalu sering tumbuh di keramaian yang penuh kekerasan, masuki kesendirian yang penuh kedamaian, ditemani oleh meditasi, sambil ingatkan diri dengan pesan ini: “Doa ada di sini tidak untuk mengubah pikiran Tuhan. Doa ada di sini untuk menyempurnakan senyuman di depan Tuhan.”

Kelima, di Lembaga Pemasyarakatan (LP) sering terlihat orang-orang marah yang sangat berbahaya. Termasuk pernah membunuh sejumlah orang. Kemarahan yang sangat berbahaya seperti ini, ada kemungkinan karena energi berbahaya yang terbawa dari kehidupan sebelumnya. Sebut saja yang bersangkutan di kehidupan sebelumnya jadi binatang berbahaya, seperti serigala. Atau di kehidupan sebelumnya tewas dibunuh, sehingga energi dendamnya kuat sekali, energi itu masih sangat kuat terbawa ketika yang bersangkutan sudah mengenakan tubuh manusia di kehi-dupan ini.

Ciri manusia jenis ini, sejak kecil sudah suka berkelahi, menemukan kebahagiaan dengan cara melukai, gembira melihat orang lain terluka. Yang paling berbahaya adalah kekuatan penggoda yang lahir jadi manusia. Seperti api, mereka membakar tanpa rasa bersalah sama sekali. Andaikan ada yang mengalami ini, pembersihan spiritual adalah langkah yang sangat disarankan. Untuk publik pemula, pelayanan adalah langkah pembersihan spiritual yang sangat meyakinkan. Terutama, karena pelayanan membuat diri yang kerdil mengecil, diri yang agung membesar. Bagus kalau belajar yoga dan meditasi.

Sebagai bahan untuk mengenali diri, ia yang kemarahannya mendekati jenis pertama dan kedua, frekwensi kemarahannya tidak terlalu sering. Ketika marah, daya rusaknya tidak terlalu berbahaya. Seperti orang jatuh, manusia jenis ini jatuhnya tidak sering. Dan, begitu jatuh, akan cepat bangkit lagi, lengkap dengan ketulusannya untuk memaafkan diri sendiri.

Kelompok ini punya ketertarikan untuk belajar spiritual. Mereka yang kemarahannya mendekati angka tiga, empat, apalagi lima, lain lagi. Frekwensi kemarahannya nyaris setiap hari. Daya rusak kemarahannya sangat berbahaya. Sangat sulit memaafkan orang lain. Dalam percakapan sehari-hari, akan merasa senang dengan menjelekkan orang yang dianggap tidak sejalan. Lebih-lebih, mereka yang berasal dari alam penggoda. Mirip dengan sapi besar di tengah barang pecah belah, mereka menendang ke sana ke mari, serta tidak tahu kalau dirinya sedang menyakiti dan melukai orang lain. Sulit membayangkan kalau kelompok lima ini akan tertarik belajar spiritual. Sebagai bekal hati-hati pada para sahabat, kekuatan penggoda bisa hadir menggunakan baju apa saja. Dari penampilan sangat kasar sampai yang sangat halus.

Mengolah Kemarahan
Seperti bahan-bahan yang ada di alam ini, asal tahu caranya, semua bahan bisa diolah menjadi nutrisi yang berguna. Mirip daun kering, kalau diletakkan di bawah pohon bunga, akan jadi bunga indah. Kotoran sapi jika diletakkan di bawah pohon mangga akan jadi buah mangga. Tantangannya kemudian, di mana daun kering kemarahan sebaiknya diletakkan agar berubah menjadi bunga indah yang penuh makna?

Untuk tujuan kepemimpinan (di keluarga maupun tempat kerja), kemarahan dengan intensitas kecil dan terkendali (kelompok pertama dan kedua) diperlukan. Ia seperti kekuatan penjaga yang membuat orang sekitar merasa segan dan penuh hormat. Lebih-lebih kalau energi kemarahan yang kecil di dalam diolah dengan kebijaksanaan mendalam, bukan tidak mungkin ia bisa bermuara pada pemimpin yang penuh karisma.

Kemarahan berbahaya ala kelompok tiga, empat, dan lima memang berat tantangannya. Kemungkinan sembuhnya lebih kecil. Namun, kalau tekadnya sangat kuat, tidak mudah menyerah melakukan pembenahan diri, serta pembersihan spiritual, kemungkinan sembuhnya juga ada.

Yogi legendaris dari Tibet, Jetsun Milarepa, adalah contoh indah. Memulai perjalanan spiritual dengan cara melaksanakan kesalahan sangat berbahaya, karena membunuh sejumlah orang melalui kekuatan black magic. Setelah dikejar rasa berdosa, dia merinding menangis ketika pertama kali mendengar nama gurunya, Marpa. Oleh gurunya Marpa, Jetsun Milarepa dibersihkan habis-habisan. Ujungnya, Jetsun Milarepa tidak saja bersih, tapi juga mengalami pencerahan mengagumkan.

Intinya sederhana, ajaran suci mirip cahaya matahari. Kesalahan berbahaya serupa daun kering. Dan, bakti mendalam pada guru sejati, itulah kaca pembesar yang diletakkan di antara keduanya. Ciri khas Jetsun Milarepa, baktinya kepada guru sejati sangat-sangat mengagumkan.

Bagi orang biasa yang tidak memiliki tekad sekuat dan sehebat Jetsun Milarepa,  sebaiknya memberi nutrisi yang cukup pada jiwanya. Makanan pikiran khususnya perlu sangat diwaspadai dalam hal ini. Dari pergaulan, bacaan, tontonan, sampai dengan memilih tempat bertumbuh. Keterhubungan spiritual adalah langkah lain yang disarankan. Belajar lebih banyak bertumbuh di alam terbuka yang bersih, jernih serta berpemandangan indah. Bangun jembatan keterhubungan melalui rasa syukur dan rasa terimakasih yang sangat mendalam. Sejumlah penelitian di barat bercerita, setelah tumbuh di alam terbuka ditemani rasa syukur mendalam, hormon-hormon stres menurun drastis. Bagian-bagian otak yang bertugas untuk kesembuhan (kekebalan tubuh) menaik secara sangat meyakinkan.

Di jalan meditasi, para sahabat diajak untuk melihat kemarahan sebagai sampah yang sedang berproses menjadi bunga indah. Orang marah di hari ini akan tersenyum indah di hari lain. Orang salah di suatu waktu bisa jadi benar di waktu lain. Kurangi ngotot dan kaku, belajar mengalir. Di tingkat kesempurnaan, pencari spiritual sering dibagikan pesan seperti ini: ‘Nyamuk dimakan kodok, kodok dimakan ular, ular dimakan burung elang. Suatu hari, ketika burung elang mati, bangkainya akan dimakan oleh nyamuk’. Seperti itulah lingkaran kesempurnaan berputar di alam ini. Serupa menyapu lantai, pagi hari disapu siangnya sudah kotor kembali. Siapa saja bisa mengerti dalam-dalam lingkaran kesempurnaan ini, kemudian mengalir tanpa perlawanan, tulus berbagi senyuman, suatu hari kemarahannya akan segera sembuh.

Bersama kemarahan yang sepenuhnya sembuh, kehidupan akan jauh dari bahaya. Sebaliknya, malah kaya akan cahaya. Lama Atisha adalah sumber cahaya dalam hal ini. Dalam perjalanan dari India ke Indonesia, di mana beliau banyak mendapat cahaya, kapal yang ditumpanginya diserang di tengah samudra. Dengan tenang sempurna Lama Atisha menjumpai kekuatan penggoda. Dilihat kekuatan penggoda sebagai ibu yang pernah melahirkan beliau di kehidupan sebelumnya. Kemudian ditawarkan, jika para penggoda haus, biarlah darah Lama Atisha diminum. Seumpama para penggoda lapar, biarlah tubuh beliau yang jadi makanan mereka.

Ujungnya, kekuatan penggoda merunduk hormat dan sujud pada Lama Atisha. Ringkasnya, kapan saja kekuatan penggoda demikian berbahaya bersama kemarahan mereka, kekuatan pelindung yang paling menjaga bernama compassion (belas kasih). Persis seperti apa yang dilakukan oleh Lama Atisha. *

Gede Prama

Komentar