nusabali

Desa Padawa Diduga Jadi Kawitan Suku Kei

  • www.nusabali.com-desa-padawa-diduga-jadi-kawitan-suku-kei

Desa Padawa, Kecamatan Banjar, Buleleng---yang merupakan satu bagian Desa Bali Aga---diduga menjadi kawitan (daerah asal) dari Suka Kei di Maluku Tenggara.

SINGARAJA, NusaBali

Indikasinya, ada persamaan sejumlah adat dan tradisi antara Desa Padawa dengan yang dilakoni Suku Kei di Maluku Tenggara. Dugaan Desa Pedawa sebagai kawitan itu terkuak setelah tim peneliti dari Pemkab Maluku Tenggara terjun ke Buleleng, akhir September 2018 lalu. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Gede Komang, menjelaskan tim peneliti Pemkab Maluku Tenggara sudah beberapa kali datang ke Bali untuk mencari tahu asal-usul Suku Kei.

Bahkan, kata Gede Komang, tim peneliti Pemkab Maluku Tenggara sempat mengunjungi dan meneiti sejumlah desa Bali Aga di Bali, seperti Desa Trunyan (Kecamatan Kintamani, Bangli) dan Desa Tenganan Pagringsingan (Kecamatan Manggis, Karangasem). Hanya saja yang dinilai memiliki hubungan sangat erat dengan kesaman tradisi adat istiadatnya dengan Suku Kei adalah Desa Padawa.

Menurut Gede Komang, hal tersebut juga didasari dari hasil disertasi penelitian Sugi Lanus dan Wayan Seriyoga Parta, dua dosen Universitas Gorontalo, yang menjelaskan lambang dari hukum adat berbunyi, ‘Larvul Ngabal’, yang berarti darah merah tombak dari Bali.

“Dari pemaparan mereka (tim peneliti Pemkab Maluku Tenggara) kepada kami, memang disebut ada sejumlah kesamaan antara Desa Pedawa dan Suki Kei. Kesamaan itu terutama dari struktur bangunan rumah adat yang sama percis seperti rumah adat di Desa Padawa. Rumah adat di sini harus membelakangi jalan, sementara segala aktivitas mesti dilakukan di dalam rumah: memasak, tidur, hingga sembahyang,” ujar Gede Komang saat ditemui NusaBali di ruang kerjanya di Singaraja, Jumat (5/10).

Ekspedisi dan penelitian Pemkab Maluku Tenggara, kata Gede Komang, juga mendapatkan kesamaan lainnya saat melakukan penelitian di Desa Padawa. Antara lain, kesamaan bentuk wajah penduduk. Menurut Gede Komang, Pemkab Maluku Tenggara melakukanpencarian wit (kawitan) Suku Kei, berawal dari cerita turun temurun bahwa Suku Kei berasal dari Bali. Hanya saja, tidak disebutkan secara pasti, Bali bagian mana?

Dari cerita nenek moyang mereka, diperkirakan warga asal Bali itu mencari ikan ke wilayah timur sekitar abad ke-13, hingga akhirnya mereka terdampar dan menetap di sebuah pulau di Maluku Tenggara. Dalam perkembangannya, mereka yang kemudian berkembang menjadi Suku Kei, dengan menerapkan sejumlah tradisi dan budaya yang dibawa leluhurnya dari Bali.  

Selain itu, dari pemaparan tim peneliti Pemkab Maluku Tenggara menjelaskan sejumlah ritual yang ada dan dilaksanakan Suku Kei hingga saat ini, hampir semuanya ada di Desa Padawa. “Kalau istilah sawen (tanda kepemilikan, Red) mereka (Suku Kei) masih pakai sampai sekarang. Sawen itu diadopsi dari Bali melalui nenek moyang mereka yang konon asal Bali,” jelas Gede Komang.

Gede Komang tidak memungkiri dugaan kawitan Suku Kei berasal dari Desa Padawa. Pasalnya, wilayah Buleleng pernah menjadi pusat perdagangan sejak zaman lampau. Kemungkinan warga Buleleng banyak yang merantau tanpa sengaja ke luar Bali. Sebelumnya, kata Gede Komang, Pemkab Malang, Jawa Timur juga pernah melakukan literasi di Buleleng yang membahas tentang nama daerah dan Kerajaan Singa di Bali-Malang.

Dengan adanya penelitian ini, ke depannya Pemkab keduabelah pihak akan merujuk pada hubungan kepemerintahan yang semakin erat. “Tidak menuntup kemungkinan jika ke depannya antara Buleleng dan Maluku Tenggara terikat dalam perjanjian kerjasama di sejumlah bidang,” katanya. *k23

Komentar