nusabali

Abu Jenazah Atlet Disambut Isak Tangis

  • www.nusabali.com-abu-jenazah-atlet-disambut-isak-tangis

Abu jenazah Dewa Gede Yoga Nata Kusuma, 38, atlet gateball yang jadi korban tewas bencana gempa 7,4 SR dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng), telah tiba di rumah duka di Banjar Tegal Ambengan, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan, Senin (8/10) sore.

Korban Tewas Bencana di Sulteng Tembus 1.944 Jiwa

TABANAN, NusaBali
Kedatangan abu jenazah disambut isak tangis keluarga korban. Pantauan NusaBali, abu jenazah Dewa Gede Yoga Nata Kusuma tiba di rumah duka, Senin sore pukul 16.00 Wita. Abu jenazah diantar mobil plat merah nopol DK 327. Abu jenazah yang dibalut kain kafan tersebut dibawa oleh keluarga almarhum dari Makassar, Sulawesi Selatan. Sebelum disemayamkan di Bale Dangin rumah duka, abu jenazah lebih dulu diupacarai segehan di depan rumah.

Saat berlangsungnya upacara itulah, sejumlah keluarga korban menangis. Istri almarhum, I Gusti Ayu Gede Dina Karamani, 30, bahkan lunglai hingga harus dipapah oleh saudaranya. Ibunda almarhum, Dewa Ayu Yayu Ratna Dewi, juga menangis terus hingga harus ditenangkan putra keduanya, Dewa Bagus Dwipa Nata Kusuma. Sambil menangis, Ratna Dewi menyebut sang anak pergi ke Palu dalam kondisi sehat, namun pulang ke rumah sudah jadi abu. "Panak tiyang anak siteng kemu, adi abu kekene mulih (Anak saya sehat ke sana, kenapa sekarang pulangnya seperti ini, Red),” ujar Ratna Dewi sesenggukan.

Suasana duka ini membuat sedih para pelayat yang kemarin melayat ke rumah duka. Sebagian besar dari mereka terlihat mengusap air mata yang membasahi pipinya, karena melihat almarhum Dewa Yoga pulang tinggal abu.

Sementara, seusai upacara segehan di depan rumah, abu jenazah Dewa Yoga langsung diupacarai nyiramang (memandikan) sebagaimana layaknya jenazah. Tampak seluruh keluarga berebut ingin nyiramang, karena abu tersebut dianggap pertemuan fisik terakhir dengan almarhum.

Sebelumnya, jenazah Dewa Yoga diterbangkan dari Bandara Mutiara Palu, Senin pagi sekitar pukul 10.00 Wita, menggunakan pesawat Lion Air---awalnya sempat direncananya akan diterbangkan menggunakan pesawat Hercules. Sebelum tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai Tuban, Kecamatan Kuta, Badung, abu jenazah sempat transit di Bandara Internasional Juanda, Surabana.

Keberangkatan abu jenazah dari Bandara Mutiara Palu diurus oleh adik sepupu almarhum, Dewa Made Pringga Mudawisona, 24, yang berdinas di Satuan Brimob Polda Palu. Adik kandung almarhum, Dewa Bagus Dwipa Nata Kusuma, 36, mengucapkan terima kasih kepada keluarga di rantau, terutama sepupunya yang anggota Brimob Polda Sulteng, Dewa Pringga Mudawisona. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Dewa Pringga," tutur Dewa Bagus Dwipa.

Dewa Dwipa mengatakan, upacara pengabenan kakaknya yang jadi korban gempa Sulteng ini akan dilaksanakan pada Buda Pon Watugunung, Rabu (10/10) besok. Pagi harinya, lebih dulu digelar prosesi ngeringkes. "Karena besok (hari ini) Tilem, maka upacara ngeringkes baru akan dilakukan saat pengabenan,” jelas Dewa Dwipa.

Almarhum Dewa Yoga Nata Kusuma merupakan anak sulung dari tiga bersaudara keluarga pasangan Dewa Nyoman Sukadana (almarhum) dan Dewa Ayu Yayu Ratna. Dari pernikahannya dengan I Gusti Ayu Gede Dina Karamani, almarhum dikaruniai tiga anak yang masih kecil-kecil: Dewa Ayu Nindya Natania, 9 (siswi Kelas IV SD), Dewa Gede Danendra Nata, 6 (sekolah TK), dan Dewa Nagus Nusakti Adi Nata, 1,5.

Almarhum Dewa Yoga kesehariannya adalah staf di Balai Pelaksana Ja-lan Nasional (BPJN) Wilayah II Denpasar. Korban berada di Hotel Roa Roa Palu saat bencana terjadi sepekan lalu, dalam rangka mengikuti Kejuaraan Gateball serangkian HUT Kota Palu. Korban berangkat ke Palu mewakili BPJN Denpasar bersama dua rekannya.

Sementara itu, jumlah korban tewas akibat gempa 7,4 SR disrtai tsunami di Sulteng, 28 September 2018, terus bertambah. Hingga Senin kemarin, korban tewas sudah tembus 1.944 orang. Sebanyak 885 jenaza di antaranya telah dikuburkan secara massal di Sulteng.

"Saat ini, terdata jumlah korban meninggal 1.944 orang. Sebanyak 885 orang telah dimakamkan secara massal. Sisanya, dimakamkan atau diambil keluarganya," kata Ketua Sub Satgas Pendampingan Pusat Bencana Gempa Sulteng/Deputi Pertahanan Negara, Laksmana Madya A Jamaluddin, dilansir detikcom di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jalan Pramuka Jakarta Timur, Senin kemarin.

Jumlah korban teewas masih sangat dinamis dan diperkirakan akan terus bertambah. Sebab, proses evakuasi masih terus dilakukan. BNPB mendapatkan laporan lisan dari Kepala Desa Petobo dan Kepala Desa Balaroa di Palu, masih ada 5.000 korban yang belum ditemukan. BNPB masih akan melakukan pengecekan lebih jauh di dua wilayah yang menjadi area likuifaksi itu.

"Menurut laporan Kepala Desa Balaroa dan Petobo, ada sekitar 5.000 orang yang belum ditemukan. Namun, masih perlu dikonfirmasi," ujar Kepala Humas dan Infomasi BNPB, Sutopo Purwo. Mereka hilang karena terjadinya likuifaksi tanah saat gempa hebat.

Likuifaksi adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang semula padat berubah menjadi cairan. 7 de

Pada 10 hari pasca bencana, Senin kemarin, kantor pemerintahan di kawasan terdampak gempa dan tsunami di Sulteng sudah mulai beroperasi. Aparat pemerintahan pun sudah mulai melayani masyarakat. "Situasi terakhir, fungsi pemerintahan mulai hari ini sudah diawaki. Artinya, sudah buka semua," kata Kepala BNPB, Willem Rampangilei, dalam jumpa pers di Jakarta kemarin.

Sementara, Satgas Penanggulangan Bencana Gempa dan Tsunami Sulteng menyebut 60 persen Puskesmas di wilayah terdampak bencana sudah beroperasi. Sejumlah rumah sakit di Sulteng juga mulai beroperasi. "Puskesmas sekarang sudah berfungsi 60 persen. Sedangkan hampir 16 rumah sakit juga sudah berfungsi. Memang fungsinya belum maksimal, tapi secara sistem sudah berjalan seperti yang kita harapkan," ungkap Dansatgas Kesehatan, Laksma TNI dr IDG Nalendra di Palu, Se-nin kemarin. *de

loading...

Komentar