nusabali

'Fenomena Colek Pamor, Isyarat Agar Mulatsarira'

  • www.nusabali.com-fenomena-colek-pamor-isyarat-agar-mulatsarira

Fenomena colek pamor yang muncul pada palinggih (bangunan suci) di sejumlah kawasan di Buleleng, sejak Sabtu (3/11), menuai tanggapan beragam.

SINGARAJA, NusaBali
Kalangan tokoh spiritual menyatakan fenomena colek pamor ini sebagai peringatan bagi umat manusia untuk mulatsarira (introspeksi diri). Tokoh spiritual pengasuh Pasraman Brahma Vidya Samgraha di Lingkungan Penarungan, Kelurahan Penarukan, Kecamatan Buleleng, Ida Bhawati Hermawan Tangkas, mengatakan jika dilihat dari kajian sastra Hindu, fenomena colek pamor ini tidak tersuratkan dalam kitab suci mana pun. Hanya saja, dengan melihat fenomena serupa beberapa tahun silam, Ida Bhawati menduga fenomena colek pamor ini meru-pakan sebuah peringatan dari Tuhan.

“Ini bentuknya sesuatu yang terjadi di luar akal sehat, di luar jangkauan manusia, karena tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Di sinilah harus diakui kebesaran Tuhan dan kita sikapi dengan bijaksana,” jelas Ida Bhawati saat dikonfirmasi NusaBali di Pasraman Brahma Vidya Samgraha, Senin (5/11).

Ida Bhawati menjelaskan, jika dihubungkan dengan kejadian alam sekarang, fenomena colek pamor ini merupakan peringatan kepada umat manusia agar tetap waspada. Jika berkaca kejadian serupa tahun 2004 dalam bentuk fenomena tanda tapak dara (jejas), menurut dia, tanda tersebut biasanya sebagai sebuah peringatan dan kesempatan untuk mulatsarira. Terutama, mulatsarira terkait situasi dan kondisi alam terkini.

Kondisi alam dimaksud menyangkut cuaca panas di siang hari hingga serentetan bencana yang datang juga seperti tak berujung. “Mungkin ini peringatan alam. Karena kan banyak kejadian alam, termasuk gempa di mana-mana,” terang Ida Bhawati.

Fenomena colek pamor yang terjadi saat ini, kata Ida Bhawati, tidak sama dengan proses colek pamor saat upacara pamelaspas atau ngurip-urip bangunan baru. Jika colek pamor pamelaspas bangunan, itu menggunakan tiga warna yang melambangkan Tri Murti. Rinciannya, warna merah yang melambangkan Brahma (dibuat dari asaban kayu cendana), warna hitam melambangkan Wisnu (diwakili oleh abu hasil pembakaran daun ilalalang atau ambengan), dan waran putih perlambang Siwa (disimbolkan dengan kapur). Colek pamor di sini dimaksudkan memohon anugrah-Nya untuk memberkati bangunan yang baru dibangun.

Ida Bhawati berpesan kepada masyarakat agar tidak terlalu mengkhawatirkan fenomena colek pamor di palinggih-palinggih ini. “Yang lebih penting, bagaimana ke depannya berbenah dan peduli terhadap lingkungan sekitar, tidak merusak alam, menjaga hubungan harmonis antar sesama, dan tetap eling kepada Tuhan,” katanya.

Sementara itu, dosen filsafat di Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan, Nyoman Suardika SAg MFilH, mengaku tidak dapat memberikan penjelasan pasti terkait feomena colek pamor ini. Menurut Suardika, kejadian ini sangat sumir. “Fenomena sangat sumir, karena tak ada sastra yang menjelaskan tentang hal ini. Kalau dari sisi niskala, mungkin itu sebuah peciri, tapi pastinya juga tak dapat dipastikan,” kata Suardika saat dikonfirmasi NusaBali secara terpisah di Singaraja, Senin kemarin.

Namun, kata Suardika, jika dilihat dari peristiwa colek pamer yang terjadi menjelang Sasih Kanem, yang biasanya dipakai umat Hindu (Bali) sebagai dewasa ayu untuk melakukan upacara nangluk merana, bisa jadi ini sebagai peringatan pembersihan jagat, agar kembali bersih dan harmonis.

Akademisi dari STAHN Mpu Kuturan lainnua, IB Wika Krishna SAg Msi, berpendapat bahwa fenomena colek pamor ini adalah hal mistis. Wika Krishna pun menganjurkan umat Hindu sebagiknya hati-hati dalam merespons masalah ini. “Ada tiga hal yang harus kita pakai pendekatan dalam aspek fenomena ini, yakni pratyaksa pramana (pengamatan langsung dengan indera), anumana praman (dengan meng-gali informasi), dan agama premana (mengutamakan sisi keyakinan),” jelas Wika Krishna.

Jika dilihat dari sisi niskala, kata dia, sarana pamor itu secara mistis adalah simbol kehadiran aspek Siwa dalam Hindu. “Dengan kehadiran colek pamor, ini pertanda peleburan atas segala pengaruh negatif dan sekaligus menghindarkan dari mara bahaya gaib,” katanya. *k23

loading...

Komentar