nusabali

Lestari dari Gempuran Globalisasi

  • www.nusabali.com-lestari-dari-gempuran-globalisasi
  • www.nusabali.com-lestari-dari-gempuran-globalisasi

Kain tenun dari luar Bali, hanyalah sebagai perbandingan, penenun juga tetap memajang kain tenun produk luar bersanding dengan kain gringsing.

Kain Gringsing di Tenganan Pagringsingan, Karangasem


AMLAPURA, NusaBali   
Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Karangasem, terkenal karena tradisi adanya yan unik. Tak hanya itu, desa ini juga terkenal karena warganya mahir membuat kain tenun gringsing. Kain ini tetap eksis di tengah luberan produk luar yang menyerbu pasar di Bali, khusunya di Karangasem.

Harga jual kain ini pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebab produk kain gringsing tergolong kain langka karena hanya diproduksi oleh penenun kain di Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan.

Ke langkanya kain gringsing karena produksinya selain sangat tradisional dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) jenis cagcag. Jika seluruh tahapan proses pembuatan kain ini diikuti, maka membutuhkan waktu paling cepat dua  tahun. Mulai dari proses pemilihan benang, mewarnai, dan menenun. Di samping itu, banyak pemilik art shop yang memborong kain tenun untuk dijual kembali, sehingga keberadaannya semakin langka.

Setiap rumah tangga menenun kain gringsing menggunakan alat tenun cagcag berhasil membuat kain tenun dobel ikat gringsing, panjang 120 cm x 62 cm. Proses menenun saja, paling cepat membutuhkan waktu hingga 4 minggu, untuk satu lembar.

Sejumlah penenun kain gringsing dihubungi di kediamannya Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan mengatakan, meluberkan kain tenun dari Lombok, Sumba, Sumbawa, dan Flores, tidak memengaruhi pangsa pasar kain gringsing. Kedatangan kain tenun dari luar Bali, hanyalah sebagai perbandingan, penenun juga tetap memajang kain tenun produk luar bersanding dengan kain gringsing.

Kesulitan dialami para pengrajin yakni pada tenaga tukang tenun. Tiap rumah rata-rata memiliki dua tukang tenun, padahal saat kunjungan wisatawan ramai, kain gringsing laris dibeli wisatawan, baik dari Eropa maupun Asia. Sebab, ruwetnya menenun kain gringsing diketahui langsung wisatawan. Mengingat di lokasi menjual kain gringsing di setiap rumah di Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan, langsung menyaksikan aktivitas menenun, dengan cara menganyan setiap helai benang.

Penenun Ni Wayan Sulatri, dari Banjar Pande, Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan menuturkan, kedatangan kain tenun dari luar Bali, sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk keberadaan kain gringsing. Walau kain dari luar Bali itu, juga diproduksi dengan cara tenun cagcag.

Sebab, jelas Ni Wayan Sulatri, kain gringsing lebih khas, lebih alami, menggunakan pewarna dari tumbuh-tumbuhan dan memiliki kekhasan tersendiri serta memulai menenun tidak sembarang waktu. Mesti mencari hari baik. "Buktinya kain gringsing untuk selendang ukuran 120 cm x 62 cm, tahun 2012 berharga Rp 150.000 per lembar, kini melesat jadi Rp 700.000 hingga Rp 900.000," kata Ni Wayan Sulatri dihubungi di kediamannya, Sabtu (1/12).

Berdasarkan hasil penelitian Urs Ramseyer dari Swiss, dalam bukunya,  Clothing, Ritual and Society in Tenganan Pagringsingan Bali (1984), ditemukan ada 20 motif kain gringsing. Hanya saja yang masih dikerjakan penenun di Tenganan Pagringsingan hanya 14 motif, yakni motif lubeng dengan ciri gambar kalajengking, sanan empeg dengan ciri kotak-kotak, motif cecempakaan ditandai adanya gambar bunga, gringsing isi ciri-cirinya semua kain berisi gambar tidak ada yang kosong, wayang berisikan gambar wayang kebo dan wayang putri merupakan motif paling ruwet dikerjakan hingga memakan waktu 5 tahun, batun tuung dengan adanya gambar biji terong, teteledan, enjekan siap, pepare, geganggangan, sitan pegat, dinding ai, dinding sigading dan tali dandan.

Menenun kain gringsing menjadi salah satu budaya masyarakat Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan  dalam menjaga tradisi dan lingkungan. Kain gringsing selama ini diminati para kolektor dunia. Di samping kain gringsing juga dijadikan benda sacral atau pratima.

Penenun Ni Wayan Sudiati mengaku menenun sejak 30 tahun lalu, semasih dirinya muda. "Mulanya menenun, untuk kebutuhan sendiri sebagai busana upacara adat. Kali ini berkembang, untuk dijual ke wisatawan," katanya. Selembar kain ikat gringsing menurut Ni Wayan Sudiati, bisa dijual dengan harga berbeda-beda. Harga normal Rp 900.000, jika wisatawan menawar bisa laku Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.*nant

loading...

Komentar