DTW di Jawa Gerus Wisdom Bali
Di Tengah 'Paceklik' Turis
DENPASAR,NusaBali
Daerah wisata di Pulau Jawa, potensial ‘menggembosi’ Bali untuk mendapatkan wisdom lebih banyak.
Hal itu karena sejumlah kemudahan, terutama akses transportasi. Daerah- daerah wisata di Jawa tersebut diantaranya Jogjakarta, Bandung, Malang sampai Banyuwangi.
Kalangan pelaku pariwisata di Bali mengakui hal tersebut. “Satu pulau, aksesnya juga bagus. Apalagi sudah ada jalan tol,” ujar Wisnu Arimbawa, salah seorang pengusaha biro perjalanan wisata, Minggu (26/12).
Wisnu Arimbawa pun menuturkan kondisi di Jogyakarta, dimana okupansi hotel rata-rata tinggi. “Suasananya penuh,” ungkapnya.
Padahal harga kamar hotel di Jogkarta, relatif lebih tinggi dibanding dibanding dengan harga kamar di Bali. Namun karena aksesnya lebih mudah, para wisdom yang umumnya memang sebagian besar dari Jawa, lebih memilih berwisata di DTW- DTW di Jawa saja.
“Apalagi tiket pesawat terbang juga naik,” lanjut Wisnu Arimbawa.Dia menunjuk pengalamannya naik maskapai. Biasanya dari Jakarta- Denpasar, dia beli tiket Rp 700 ribu.” Namun kini jadi Rp 1 juta,” ujarnya menyebut salah sebuah maskapai.
Pergerakan pesawat setelah tanggal 24 Desember kata Wisnu Arimbawa juga mengalami penurunan. Sebelumnya sampai 95 pesawat per hari, kini sekitar 65 pesawat perhari.
“Menurun sekitar 30 persen,” ungkap dia.
Karena itulah, dia memprediksi setelah Nataru nanti, kondisi pariwisata Bali masih berat. Hal senada disampaikan Ismoyo S Soemarlan. Pengusaha hotel, yang juga Pengurus PHRI Badung dan PHRI Bali.
“Di Jawa dari ujung barat sanpai ke timur sudah terhubung tol,” kata Ismoyo. Jadi cukup dengan berkendara saja- tidak perlu naik pesawat, sudah bisa berwisata ke Jogja atau ke Malang. “Harga tiket pesawat juga meningkat,” kata Ismoyo. Itu juga membuat wisdom mungkin berpikir, cukup berwisata di DTW yang ada di Jawa.
Selain faktor akses transportasi, liburan sekolah yang sudah berakhir pada pekan pertama Januari 2022, menyebabkan Bali akan kembali sepi wisdom. “Itu merupakan pola rutin,” ujar Ismoyo. Namun kali ini, tambah sepi, karena tidak ada wisman sebagaimana sebelum pandemi. *K17
Kalangan pelaku pariwisata di Bali mengakui hal tersebut. “Satu pulau, aksesnya juga bagus. Apalagi sudah ada jalan tol,” ujar Wisnu Arimbawa, salah seorang pengusaha biro perjalanan wisata, Minggu (26/12).
Wisnu Arimbawa pun menuturkan kondisi di Jogyakarta, dimana okupansi hotel rata-rata tinggi. “Suasananya penuh,” ungkapnya.
Padahal harga kamar hotel di Jogkarta, relatif lebih tinggi dibanding dibanding dengan harga kamar di Bali. Namun karena aksesnya lebih mudah, para wisdom yang umumnya memang sebagian besar dari Jawa, lebih memilih berwisata di DTW- DTW di Jawa saja.
“Apalagi tiket pesawat terbang juga naik,” lanjut Wisnu Arimbawa.Dia menunjuk pengalamannya naik maskapai. Biasanya dari Jakarta- Denpasar, dia beli tiket Rp 700 ribu.” Namun kini jadi Rp 1 juta,” ujarnya menyebut salah sebuah maskapai.
Pergerakan pesawat setelah tanggal 24 Desember kata Wisnu Arimbawa juga mengalami penurunan. Sebelumnya sampai 95 pesawat per hari, kini sekitar 65 pesawat perhari.
“Menurun sekitar 30 persen,” ungkap dia.
Karena itulah, dia memprediksi setelah Nataru nanti, kondisi pariwisata Bali masih berat. Hal senada disampaikan Ismoyo S Soemarlan. Pengusaha hotel, yang juga Pengurus PHRI Badung dan PHRI Bali.
“Di Jawa dari ujung barat sanpai ke timur sudah terhubung tol,” kata Ismoyo. Jadi cukup dengan berkendara saja- tidak perlu naik pesawat, sudah bisa berwisata ke Jogja atau ke Malang. “Harga tiket pesawat juga meningkat,” kata Ismoyo. Itu juga membuat wisdom mungkin berpikir, cukup berwisata di DTW yang ada di Jawa.
Selain faktor akses transportasi, liburan sekolah yang sudah berakhir pada pekan pertama Januari 2022, menyebabkan Bali akan kembali sepi wisdom. “Itu merupakan pola rutin,” ujar Ismoyo. Namun kali ini, tambah sepi, karena tidak ada wisman sebagaimana sebelum pandemi. *K17
Komentar